MY FANFICTION


Tittle : The Secret Murderer
Genre : Mystery
Cast :
-          Kim Jiwon as Yoon Myeong Joo
-          Park Yoora as Yoora
-          Oh Sehun  as Sehun
-          Etc.
Story by : Nuryl Ayda Assha

 Bagaimana rasanya jika kau melihat orang terkasihmu dibunuh didepan matamu?’


Author POV                      

Seoul International High School. Hampir seluruh warga Korea ingin bersekolah disana. Rata rata siswa siswi yang bersekolah disana adalah siswa dari kalangan atas. Bukan berarti di sekolah itu juga terdapat siswa dari kelas rendah. Tak ada kelas rendah disana. Minimum pun kelas menengah.

‘kriiiiiiiing kriiiiiiiiiiing’

Bel pertanda akan dimulainya pelajaran berbunyi. Semua siswa segera menuju kelas masing masing untuk mengikuti pelajaran pada jam pertama.
Kelas 2 – 1.
Seorang guru memasuki kelas 2 – 1. Semua siswa terdiam memerhatikan depan. Bukan memerhatikan sang guru melainkan memerhatikan seorang perempuan dengan tinggi rata rata, berkulit putih, dan rambut hitam panjang yang membuat perempuan itu terlihat lebih cantik.
 “Selamat pagi. Hari ini kelas kita kedatangan siswa baru. Dia pindahan dari Beijing International High School. Silahkan perkenalkan dirimu.” Ucap guru yang masih muda dan tampan itu. Mr. Cho Kyuhyun atau biasa dipanggil Mr. Cho. Dia memiliki wajah malaikat, tapi kalau siswanya melakukan kesalahan. Dia akan berubah menjadi iblis.
“Annyeonghaseyo. Yoon Myeong Joo imnida. Kalian bisa memanggilku Myeong Joo. Saya pindahan dari Beijing International High School. Bangapseumnidaa” ucap perempuan itu – Myeong Joo lalu membungkukkan badannya 90°.
“Myeong Joo silahkan duduk.” Ucap Mr. Cho sambil menunjuk kursi yang kosong.
Myeong Joo segera menuju kursi itu dan mengikuti pelajaran jam pertama.
‘ kriiiing kriiiing’
Bel istirahat pertama telah berbunyi. Seluruh siswa segera berhamburan keluar kelas. Ada yang ke kantin, ke perpustakaan, ke toilet, atau ke rooftop. Namun, mayoritas ke kantin.
Myeong Joo segera memasang headphonenya dan mendengarkan musik favoritnya. Ia berjalan menuju kantin sambil memainkan ponselnya.
Myeong Joo tak memerdulikan siswa yang memandangnya terpesona. Bahkan ada yang mengambil foto seorang Yoon Myeong Joo.
Setelah membeli makanan dan minuman Myeong Joo segera duduk dan menikmati makanannya. Tak memerdulikan orang -  orang yang terpesona dan mengambil fotonya.
Myeong Joo menghentikan aktifitasnya saat seorang perempuan duduk dihadapannya. Ia menatap perempuan itu datar.
Ia lalu melanjutkan aktifitasnya yang sempat tertunda.
“YA!!” ucap perempuan itu.
“Aish. Waeyo?” ucap Myeong Joo kesal.
“Kau ini kenapa mengabaikanku?”
“Kau tak lihat aku sedang makan?” ucap Myeong Joo segera menghabiskan makanannya.
“Bagaimana hari pertama sekolah?” ucap Perempuan itu – Park Yoora.
“Menyebalkan”
“Menyebalkan bagaimana?”
“ Aku sudah diberikan pelajaran paling ‘mudah’. Dan angka angka itu dengan ‘indahnya’ tersusun rapi di papan tulis. Dan di hari pertama ini Mr. Cho memberikanku ‘hadiah’ berupa test. Good!”.
Yoora yang mendengar itu langsung tertawa terbahak bahak.
“Ya! Jangan menertawakanku” ucap Myeong Joo kesal.
Yoora tetap tertawa.                                                                         
Myeong Joo mendengus kesal.
“Kau lupa tujuan kita kemari?”
“Mianhae” ucap Yoora.
“Kau sendiri bagaimana? Bagaimana hari pertama sekolah? Apa ada yang mencurigakan?”
“Tak ada hanya saja ada satu orang yang.........”
“Yang?”
“Membuatku...”
“Membuatmu......?”
“Merasa...”
“Aish. Cepatlah!” ucap Myeong Joo kesal.
“Membuatku merasa terpesona. Dia sangat tampan kulitnya putih, tinggi, mempesona” celoteh Yoora.
Bla Bla Bla Bla Bla Bla.
Itulah yang Myeong Joo dengar. Ia menggeram kesal.
“Aku bertanya serius!” ucap Myeong Joo kesal.
“Dia memang tampan”
“Kau ini benar - “
Myeong Joo terpaksa menelan kalimatnya bulat bulat saat dengan ‘indahnya’ Yoora meletakkan tangannya diwajahnya.
Myeong Joo menyingkirkan tangan Yoora.
“Ya! Kau ini benar – “
‘PUK’
Lagi – lagi Myeong Joo harus menelan kalimatnya bulat bulat.
“Kau ini – “
“Sssshhttt.... jangan berisik”
“Waeyo?” ucap Myeong Joo
“Ada pengeranku..”. ucap Yoora.
Myeong Joo mengikuti arah pandangan Yoora.
“Jelek begitu.” celetuk Myeong Joo.

Dan


Myeong Joo diam. Dapat kita lihat betapa ‘indahnya’ wajah Myeong Joo sekarang. Telinga yang merah dan rambut yang berantakan. Ya, ia baru saja mendapat ‘hadiah terindah’ dari Yoora.
'kriiing kriiing’
Bel dimulainya pelajaran telah berbunyi.
Seluruh siswa siswi mulai memasuki kelas masing untuk mengikuti pelajaran.

‘kriiing kriiing’
Seluruh siswa segera berhamburan keluar kelas. Pelajaran untuk hari ini telah usai. Ada yang ke parkiran, ada yang dijemput, dan ada yang jalan kaki. Myeong Joo dan Yoora adalah salah satu dari mereka yang pulang dengan jalan kaki.

__________

Sesampainya dirumah Myeong Joo segera ganti baju dan langsung menuju ke suatu tempat. Diperjalanan Myeong Joo bertemu Yoora. Mereka melanjutkan perjalanan bersama. Karena memang tempat tujuan mereka sama.
Myeong Joo dan Yoora tiba di sebuah gedung tua. Mereka segera masuk gedung itu.
Gedung tua dengan dinding yanng sudah usang. Tumbuhnya tumbuhan merambat menambah suasana angker di gedung ini.
Ya, memang angker.
Myeong Joo dan Yoora berjalan menghampiri salah satu dinding. Myeong Joo menekan sebuah dinding dan muncullah sebuah alat untuk memasukkan kata sandi. Myeong Joo segera mengetikkan sandi.
CLICK
Dinding dihadapan Myeong Joo bergeser kebelakang lalu kesamping. Dan tampaklah sebuah tangga menurun.
Myeong Joo dan Yoora segera masuk dan menuruni tangga itu, dan dinding itu kembali tertutup.
Banyak orang yang sedang berlalu lalang.
Myeong Joo dan Yoora segera menuju ke ruang rapat.
Tempat ini sangat jauh berbeda dengan yang diatas – gedung tua. Dapat dilihat kalau tempat ini sangat mewah, dilengkapi dengan teknologi canggih, dan persenjataan yang lengkap.
Dapat juga dilihat dengan jelas huruf huruf yang tersusun di dinding. Nama bangunan rahasia ini.


‘ ASSOCIATION OF INTERNATIONAL KOREAN DETECTIVE 

Ya.                           
Mereka semua yang ada disini adalah detektif. Termasuk Myeong Joo dan Yoora.
Ada banyak sekali detektif disini. Dan yang ada di ruang rapat adalah detektif terbaik.
Mereka semua yang ada di ruangan ini tengah mencoba menyelesaikan sebuah kasus pembunuhan. Mereka memang detektif terbaik, itulah mengapa mereka yang diberikan kasus ini. Biasanya mereka bisa menyelesaikan kasus dalam waktu sebentar. Hanya saja kali ini kasusnya sangat jauh berbeda. Sudah satu tahun mereka mencoba menyelesaikan kasus ini.
“Kita akan membahas kasus pembunuhan itu.”
Semua menunggu.
“Aku mendapatkan sebuah petunjuk dari orang yang terpercaya. Kasus ini pernah terjadi sebelumnya. Tepatnya pada awal tahun 1992 – akhir tahun 2012” ucap Yunho.
“2012? Berarti dua tahun yang lalu?” ucap Myeong Joo.
Yunho hanya mengangguk.                                
“Bagaimana dengan tahun 2013??”
“Itu akan kujawab nanti” jawab Yunho.
Myeong Joo hanya mengangguk.
“Kasus ini sama dengan kasus kita, hanya saja di kasus periode 1992 – 2012, terjadi setiap 2 bulan. Sedangkan kasus tahun ini, terjadi setiap 3 bulan. Korban dalam kasus yang lalu dan yang sekarang juga ditemukan dengan kondisi yang.... yah kalian tahu.”
“Dan megenai tahun 2013” lanjut Yunho.
“Orang itu bilang, ‘pelaku’ memberikan ‘korban’ kesempatan hidup dalam jangka waktu satu tahun. Karena ‘pelaku’ menyukai angka 3"
“Tunggu dulu, memberikan waktu?” ucap Myeong Joo memastikan.
Lagi lagi Yunho hanya mengangguk.
“Itu berarti, korban sudah ditentukan oleh pelaku. Begitu juga dengan kasus 1992 – 2012. ‘pelaku’ sudah menentukan siapa yang akan jadi ‘korban’ selanjutnya. Dan kasus tahun ini, berarti korban sudah ditentukan pada akhir 2012.”
Semuanya diam mendengarkan Myeong Joo.
“Baiklah. Kita anggap ada kasus sebelum 1992 – 2012. Dan kalau memang ada, korban pada 1992 – 2012 berarti sudah ditentukan.” Ucap Myeong Joo.
“Mungkin ada kasus yang jatuh korban setiap bulan”. Lanjut  Myeong Joo.
Semua pandangan mengarah pada Myeong Joo.
“Aku hanya menggunakan logikaku. Apa kalian tak terfikir, kalau kasus ini berurutan?”
Semua terdiam.
“Pada tahun 1992 – 2012. Terjadi pembunuhan dengan 2 korban. Dan pada tahun 2014 dengan 3 korban. 2, 3. Bukankah sebelum 2 ada satu?. Kan bisa saja ada kasus sebelum 1992 – 2012 yang korbannya jatuh tiap bulan”
Yunho hanya mengangguk.
Bisa juga.
“Kita anggap ada kasus pada tahun 1981 – 1991. Dan jika kufikirkan lebih dalam lagi. Kasus ini benar benar berurutan. 1, 2, 3.” Ucap Myeong Joo.
Yang lain tetap diam.
“Pertama. Pada tahun 1981 – 1991. Tahun berakhir dengan angka 1. 1 korban setiap bulan. Kedua. Pada tahun 1992 – 2012. Tahun berakhir dengan angka 2. 1 korban setiap 2 bulan. Dan yang terakhir. 2014 sampai kapan aku tak tahu, mungkin 2024. Tahun berakhir dengan angka 4. 1 korban setiap 3 bulan. Kalau memang ada kasus pada 1981 – 1991, itu berarti, kasus ini terjadi 20 tahun berturut turut. Dan mengapa tahun 2013 tak terjadi? Padahal seharusnya terjadi. Karena, pada kasus kasus sebelumnya jangka waktu pembunuhan ‘selalu’ sesuai dengan angka di akhir tahun.”
“Pelaku menyukai angka 3, jadi dia tak mau di tahun dimana ada angka favoritnya, dia repot repot ‘membunuh’” ucap Yoora. Sedikit ragu.
“Benarkah? Kenapa terjadi 3 bulan sekali? 3 angka favoritnya kan?”
Yoora diam. Dia tak tahu.
“Kalau memang ‘dia’ menyukai angka 3, mengapa pembunuhan itu ‘selalu’ terjadi pada kalau tidak jam 3, hari ketiga, minggu ketiga, atau bulan ketiga , atau hal lain yang berhubungan dengan angka 3?”
Semuanya terdiam menatap Myeong Joo.
Myeong Joo menyadari arti dari tatapan itu.
Dia sedikit.... tak percaya.
“Kalian tak tahu?” tanya Myeong Joo.
Semua yang ada disitu – kecuali Myeong Joo, menggeleng.
“Kalian benar benar tak tahu?” ucap Myeong Joo memastikan.
Semua menggeleng.
“Lalu apa yang kalian tahu? Kalian hanya tahu jangka waktu terjadinya pembunuhan? Tiga bulan sekali begitu?” ucap Myeong Joo dengan nada yang ‘sedikit’meninggi.
Semua mengangguk.
Myeong Joo melihat ke arah jam yang terpasang di dinding. Mereka memulai rapat jam 11 malam. Dan sekarang jam 2 pagi. Sudah tahun 2015.
Myeong Joo menghembuskan nafasnya pelan.
Menenangkan diri.

Yunho diam memerhatikan Myeong Joo.
Myeong Joo adalah kesayangan Yunho. Meskipun usianya terbilang masih muda dan dia masih SMA. Dia bisa dibilang detektif terbaik di AOIKD. Dia sendiri tak bisa mengungguli kehebatan Myeong Joo. Myeong Joo sangat teliti dalam mencari petunjuk dalam setiap kasus yang ia tangani. Myeong Joo dapat menyelesaikan kasus yang rumit hanya dalam waku beberapa hari. Mungkin jika bukan Myeong Joo yang menangani kasus itu, bisa saja terselesaikan dalam waktu berbulan bulan. Myeong Joo juga pernah menyelesaikan kasus hanya dalam waktu beberapa jam. Yunho masih ingat kasus itu. Kasus pembunuhan. Dimana korban dibunuh dengan racun. Kasus itu terjadi di sebuah restoran. Dalam kasus itu, ‘pelaku’ membunuh dengan cara yang tak terfikirkan,yaitu membuat orang lain yang menjadi tersangka.

Disaat yang lain berusaha menyelidiki kasus itu didekat korban. Myeong Joo langsung pergi ke berbagai tempat yang memungkinkan disimpannya racun itu. Myeong Joo ingin segera menyelesaikan kasus itu, karena ia dianggap sebagai tersangka karena ada dilokasi saat pembunuhan, dan saat itu hanya ada pelayan, chef, Myeong Joo, dan Yoora. Dan pemilik restoran itu datang kira kira 30 menit kemudian.  Jadi yang ada disana dijadikan tersangka. Myeong Joo sangat santai dalam menangani kasus. Terbukti saat itu, dia masih sempat ke supermarket di depan restoran itu. Dan dia kembali dengan sebuah botol kecil yang ia tempatkan di sebuah plastik bening. Dia memerhatikan setiap orang yang ada disana.

Pemilik restoran terlihat marah marah pada chef, karena para polisi menuduh chef-lah yang menjadi tersangka utama. Pemilik itu juga marah karena dia juga dijadikan tersangka. Myeong Joo menghampiri mereka semua. Dan mengajak polisi untuk berfikir apa yang tak terfikirkan. Dan Myeong Joo langsung menunjuk pemilik restoranlah pelaku pembunuhan.
Myeong Joo sangat yakin kalau di botol itu, ada sidik jari pemilik restoran itu. Racun yang digunakan oleh pelaku adalah racun cair. Jadi sedari tadi Myeong Joo berlalu lalang di restoran ini untuk mencari wadah dari racun itu. Dan dia ke supermarket ternyata juga untuk mencari botol itu.
Myeong Joo adalah detektif terhebat yang Yunho ketahui.

Myeong Joo bahkan mengetahui korban itu dibunuh dengan racun hanya dengan melihat ciri ciri korban itu.
Sama sekali tak terlintas kalau korban meninggal karena serangan jantung dilihat dari korban yang tiba tiba meninggal.
Yunho sangat tertarik dengan kasus yang diselesaikan dengan Myeong Joo dalam waktu beberapa jam itu.
Tapi dalam kasus ini. Sudah satu tahun tak terpecahkan.
“Kalian jangan hanya membaca laporan pembunuhan itu” ucap Myeong Joo yang berhasil membuyarkan lamunan Yunho tentang kasus tahun lalu.
“Kalian juga harus membaca kapan waktu itu terjadi. Kalau memang ‘pelaku’ menyukai angka 3, mengapa tempat atau waktu kejadian selalu berhubungan dengan angka 3?” lanjut Myeong Joo.
Semua terdiam.
Tak tahu.
Tak tahu jawaban apa yang tepat untuk menjawab pertanyaan Myeong Joo.
Myeong Joo mengusap wajahnya kasar.
Seorang Pria bernama Changmin meminta izin untuk menjawab sebuah panggilan di handphonenya.
Semua menunggu.
Changmin langsung memasukkan handphonenya kesaku begitu panggilan berakhir.
Changmin langsung menatap mereka semua.
Lalu menatap Myeong Joo.
“Ada kasus pembunuhan di awal tahun ini. Terjadi disebuah hotel.”
Myeong Joo membulatkan matanya.
Myeong Joo berfikir.
Bukan hari ketiga.
Bukan minggu ketiga.
Bukan bulan ketiga.
Myeong Joo langsung mengarahkan pandangannya pada jam dinding.
Lagi lagi Myeong Joo membulatkan matanya.

Jam 3.

“Changmin, cepat ke lokasi pembunuhan.” Perintah Yunho.
Changmin mengangguk.
“Tunggu” ucap Myeong Joo.
“Aku ikut. Aku akan mencari petunjuk di lokasi dan memeriksa korban. Selama ini aku belum pernah memeriksa jenazah. Aku akan memeriksanya. Siapa tahu ada petunjuk yang kalian lewatkan.” Lanjut Myeong Joo langsung kemobil.
Changmin segera menyusul.

__________________

Myeong Joo berdiri disamping mobilnya.
Ia memerhatikan hotel itu.
Ia lalu memerhatikan jalanan.
Tiga persimpangan.
“Maaf. Di lantai berapa kasus ini terjadi?” tanya Myeong Joo pada salah satu polisi.
“Lantai 3” jawab polisi itu.
Angka 3.
“Di kamar nomor berapa?” tanya Myeong Joo lagi.
“Kamar 333”
Angka 3.
Myeong Joo segera menuju kamar itu.
Benar benar berhubungan dengan angka 3.
Apalagi kasus ini semuanya berhubungan dengan angka 3.
Jam 3.
Terletak di 3 persimpangan.
Di lantai 3.
Kamar nomor 33.
Myeong Joo segera memasuki kamar itu.
Bau anyir langsung menyeruak.
Myeong Joo merasa mual.
Ia langsung mengenakan masker dan sarung tangan.
Myeong Joo mulai mengelilingi tempat itu untuk mencari petunjuk yang bisa ada dimana saja.
Sudah lebih dari 2 jam Myeong Joo mencari petunjuk.
Tapi ia belum menemukan satu petunjuk pun.
Ia hendak keluar.
Namun ia terhenti.
Myeong Joo belum memeriksa mayat itu.
Mungkin ada petunjuk disitu.
Myeong Joo segera mendekati jenazah itu.
Satu pemikiran yang ada dibenak Myeong Joo.
Benar benar mengenaskan.
Myeong Joo menahan agar ia tak muntah.
Perut yang terkoyak, kaki kanan putus sampai pangkal, mulut mengeluarkan darah, dan juga hidung yang mengeluarkan darah.
Myeong Joo mulai memerhatikan perut yang terkoyak itu.
Dia hanya diam memerhatikan isi perut itu.
Myeong Joo memotretnya sedetail mungkin.
Dahi Myeong Joo mengernyit.
Dia melihat ada panah kecil yang tertoreh pada jantung jenazah itu.
Myeong Joo segera mengeluarkan kaca pembesar miliknya.
Mengarahkan kaca pembesar itu pada jantung.
Myeong Joo berusaha berfikir.
Panah itu menunjukkan arah.
Myeong Joo mengikuti arah panah itu.
Hati.
Dan di hati itu ada panah lagi.
Mengarah ke salah satu sisi dinding.
Setelah memotret petunjuk di organ jenazah.
Myeong Joo segera menghampiri dinding yang ‘ditunjuk’ oleh panah itu.
Myeong Joo menggunakan kaca pembesarnya.
Menelusuri setiap centi dinding itu.
Lagi lagi ia hanya mengernyit bingung.
Panah lagi?
Myeong Joo menghela nafas panjang.
Ia kembali mengikuti kemana arah panah itu.
Ke sisi dinding yang lain.
Myeong Joo ke dinding itu.
Ia semakin bingung.
Panah itu mengarah kebawah.
Myeong Joo mengambil alatnya.
Myeong Joo lalu menggali lantai itu.
Myeong Joo terdiam.
Ada sesuatu disana.
Berbentuk aneh.
Myeong Joo mengambil benda itu.
Berbentuk segitiga.
Ada bentuk mata disana.
Dan hiasan hiasan aneh.
Dia segera menuju ke markas.
____________________________________

Myeong Joo meletakkan semua foto di tempat kejadian.
Semua diam.
Takjub.
Bingung.
Myeong Joo benar benar hebat.
Tak ada satupun dari mereka yang bisa melebihi kemampuan Myeong Joo.
“Aku bisa menemukan petunjuk ini. Bahkan bisa dibilang ini petunjuk yang sangat banyak. Padahal hanya dalam satu lokasi.” Ucap Myeong Joo.
“Dan aku juga menemukan ini.” Lanjut Myeong Joo sambil menunjuk salah satu foto. Myeong Joo lalu meletakkan barang yang ada di foto itu dimeja.
Berbentuk aneh.
“Bagaimana bisa kalian tak menemukkan petunjuk sebanyak ini di kasus tahun lalu?” ucap Myeong Joo.
Semua hanya diam.
“Apa kalian hanya memeriksa lokasi? Apa kalian tidak memeriksa jenazah? Apa kalian tidak berfikir kalau pelaku meninggalkan jejak pada korban?”
Hening.
Myeong Joo mengusap wajahnya kasar.
Ia harus sabar menghadapi kasus yang satu ini.
Ini bukan kasus yang bisa dipandang sebelah mata.
“Satu lagi, apa kalian –“ Myeong Joo merogoh sesuatu di sakunya.
“ – sudah menggunakan benda ini selama kasus ini terjadi?”
Semua diam memandang Myeong Joo.

Jawabannya hanya satu.

Belum.

Kaca pembesar.

Semua yang ada dihadapan Myeong Joo belum menggunakan benda itu sekalipun.
“Belum?” ucap Myeong Joo
“Kalian menyebut diri kalian sebagai detektif? Aku mulai ragu kalau kalian adalah seorang detektif. Bukankah kaca pembesar identik dengan detektif? Bukankah detektif harus mencari petunjuk sekecil apapun itu? Dan bagaimana bisa kalian menemukan petunjuk sekecil itu kalau tak menggunakan kaca pembesar?” lanjut Myeong Joo.
Semua hanya diam.
“Mengapa kalian tak mau memeriksa jenazah? Mengapa kalian tak mencoba untuk mencari petunjuk yang ada di jenazah? Apa kalian jijik? Apa kalian merasa mual? Pusing?” ucap Myeong Joo sambil memandangi semua yang ada dihadapannya.
“Apa kalian fikir aku tak merasa seperti itu? Aku juga mual. Aku juga pusing. Tapi aku menahannya untuk mencari petunjuk. Apa kalian tak bisa menahannya untuk sebentar saja. Kalian pasti akan menemukan petunjuk jika kalian menahannya.” Lanjut Myeong Joo.
Semua lagi lagi hanya diam.
Mereka tak marah pada Myeong Joo karena telah berkata –secara tidak langsung – kalau mereka tak pantas untuk menjadi detektif.
Myeong Joo mengusap wajahnya kasar.
“Dan aku yakin ada banyak sekali petunjuk di lokasi lokasi sebelumnya.” Ucap Myeong Joo lirih.
Semua saling memandang satu sama lain.
Myeong Joo menghembuskan nafasnya pelan.
Jam 8 pagi.
“Aku akan menuju lokasi sebelumnya. Aku akan mencari petunjuk disana. Yunho hyung, ikut aku” ucap Myeong Joo lalu segera pergi kelokasi berikutnya.
_____________________________________
Myeong Joo membutuhkan waktu yang lama untuk menemukan petunjuk petunjuk.
Ia harus menelusuri dinding untuk mencari tanda panah.
Sangat lama.
Namun Myeong Joo tetap dapat menemukan petunjuk petunjuk itu.
Dan barang aneh aneh itu.
Jadi, total barang itu ada 5.
____________________________________
Myeong Joo diam memandangi benda benda itu.
Ia berfikir.
Apa kegunaan barang ini?
Kenapa ada benda di setiap lokasi?
Dan apa hubungan semua benda benda ini dengan kasus kematian yang sedang ia tangani?

Myeong Joo terdiam.
Ia lalu menepuk dahinya.
“Bodoh. Aku kan dapat mengakses internet dengan gratis disini. Kenapa tak ku gunakan sejak awal? Aigooo...”
Myeong Joo segera menyalakan laptopnya dan mengakses internet.
Myeong Joo mengetik.
`SIMBOL SIMBOL ANEH DI DUNIA’
Myeong Joo menelusuri setiap website.
Sampai Myeong Joo menemukan sebuah situs.
Myeong Joo mengernyit.
Tittle situs itu.

‘SIMBOL SIMBOL KEMATIAN’
Myeong Joo memerhatikan halaman pertama situs itu.
Terdapat foto benda yang benar benar mirip dengan benda yang ditemukannya.
Myeong Joo segera menghubungi Yunho.
Myeong Joo hanya diam memandangi laptopnya.
Ia sengaja menunggu Yunho untuk membaca bersama sama.
‘ting tong`
Myeong Joo segera berlari menuju pintu dan membuka pintu.
Yunho langsung masuk.
Myeong Joo menuju kamarnya dan mengambil laptopnya lalu meletakkan dimeja.
“Ada apa?” tanya Yunho.
Myeong Joo menunjuk layar laptopnya.
Yunho mengernyit lalu menatap Myeong Joo.
Myeong Joo mengangguk.
Myeong Joo dan Yunho lalu mulai membaca.

‘SIMBOL SIMBOL ANEH DI DUNIA’
Simbol simbol ini biasa juga disebut sebagai simbol kematian. Karena sebagian besar orang yang terbukti memiliki benda yang bergambarkan simbol ini pasti akan mati. Bahkan benda yang tidak asli yang sama persis dengan benda ini juga dapat membawa kematian. Terbukti pada abad lalu dimana seorang peneliti mencoba untuk menduplikat benda ini, beberapa jam kemudian ia meninggal dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Dan ditemukan simbol yang sudah retak dan sudah berlumuran darah. Dan beberapa puluh tahun yang lalu. Seorang peneliti dari negara lain juga melakukan hal yang sama. Dan peneliti itu juga bernasib sama. Meninggal dalam kondisi yang mengenaskan. Sudah banyak orang yang meneliti symbol itu. Dan semua peneliti itu tewas mengenaskan. Dan pada setiap korban, selalu terdapat symbol yang berbeda. Konon katanya, symbol symbol ini adalah symbol dari seorang iblis yang membawa kematian bagi orang yang sangat ingin mengetahui symbol ini.

DEG DEG

Myeong Joo terdiam.
Membaca berulang kali potongan kalimat.
‘...membawa kematian bagi orang yang sangat ingin mengetahui symbol ini.’
Satu pertanyaan melintas dipikirannya.
Apa aku akan mati?
Myeong Joo kembali membaca.
Alasan iblis ini membunuh orang yang ingin mengetahui symbol ini adalah iblis itu tak mau kalau ada yang mengetahui tentang mereka. Dan kabarnya raja iblis itu sedang mencari seorang manusia yang sangat berpengaruh penting dalam kehidupan raja iblis. Karena manusia itu ditakdirkan untuk menjadi pasangan iblis itu. Dan jika raja iblis berhasil mendapatkan orang itu. Kematian tak akan terjadi karena symbol itu.

Mencari pasangannya?
Myeong Joo lagi lagi diam.
Iblis mencari pasangan seorang manusia?
Raja iblis adalah iblis yang sangat kejam. Ia tak tanggung tanggung dalam membunuh ‘pengganggu’. Terbukti korban selalu dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Dan raja iblis tak dibantu ataupun membutuhkan bantuan oleh dan dari siapapun. Raja iblis ingin mencari ‘pasangannya’ sendiri. Dan pasanngannya adalah seorang keturunan  iblis dan manusia. Ada satu jawaban jika tak ingin ada korban.
Temukan dan serahkan ‘pasangan’ raja iblis.
Korbankan 1 orang untuk semua orang.

Yunho dan Myeong Joo menghembuskan nafas.
Seakan akan mereka tak bernafas selama mereka membaca.
“Apa maksud dari semua ini? Raja iblis mencari pasangan seorang manusia?” ucap Myeong Joo.
Yunho diam membaca potongan kalimat.
‘dan pasangannya adalah seorang keturunan iblis dan manusia’

“Bagaimana bisa seorang iblis dan manusia memiliki hubungan? Terlebih lagi sampai memiliki keturunan.” Ucap Yunho bingung.
“Entahlah, aku bingung. Ada beberapa hal yang kufikirkan dari situs ini. Pertama, ‘...membawa kematian bagi orang yang sangat ingin mengetahui symbol ini...’ dan kita sangat ingin mengetahui symbol ini. Kedua, ‘pasangannya adalah seorang keturunan iblis dan manusia.’  Yang jelas sulit untuk menggunakan logika. Dan ketiga, cara menghentikan kasus ini, ‘ temukan dan serahkan ‘pasangan’ raja iblis. Korbankan 1 orang untuk semua orang’ apa itu tak kejam ? Tak berperikemanusiaan. Apa tak ada cari lain?” ucap Myeong Joo.

Entahlah.

Itulah jawaban yang tertera di ekspresi wajah Yunho.
Myeong Joo dan Yunho terdiam.
Bingung.
“Sebaiknya kita bicarakan ini bersama” ucap Yunho.
Myeong Joo diam menatap Yunho.
Yunho terdiam sesaat.
“Maksudku bersama dengan anggota yana lain.” Lanjut Yunho.
Myeong Joo mengangguk.
“Aku pulang dulu” pamit Yunho.
Myeong Joo mengantarkan Yunho ke depan.
Setelah Yunho pergi Myeong Joo masih diam didepan laptopnya.
Myeong Joo kembali mencari cari tentang kasus ini.
Myeong Joo mengetik ‘pernikahan iblis dan manusia’
Enter.
Myeong Joo meng-klik salah satu artikel.
Myeong Joo diam.
Haruskah ia membacanya sendirian?
Atau membacanya bersama sama dengan rekan rekannya di markas?
Myeong Joo menggelengkan kepalanya.
Myeong Joo mulai membaca artikel itu.
______________________________________

Skip a week later

At school.

Myeong Joo berjalan santai menuju kelasnya sambil mendengarkan musik kesukaannya melalui headphone dan memainkan ponselnya.
Bad mood.
Myeong Joo sedang badmood.
Sudah satu minggu AOIKD tak bertugas karena liburan.
Dan Myeong Joo tak suka itu.
Myeong Joo belum memberi tahu yang lain tentang apa yang dibacanya setelah Yunho pulang.
Myeong Joo memasuki kelasnya dan langsung menempati tempatnya.
Myeong Joo tetap mendengarkan musik melalui headphone-nya dan tetap memainkan ponselnya. Entah apa yang sedang dimainkan olehnya. Tanpa memerdulikan suasana dikelasnya yang bisa dikatakan SANGAT BERISIK.
Beberapa saat kemudian jari jari Myeong Joo yang memainkan ponselnya berhenti.
Myeong Joo melihat suasana dikelasnya ini.
Myeong Joo benar benar badmood.
Volume sudah maksimal. Tapi suasana riuh di kelasnya mampu mengalahkan volume dari ponsel Myeong Joo.
Myeong Joo melepaskan headphonenya dengan ekspresi kesal lalu menghembuskan nafasnya kasar.
“BISAKAH KALIAN DIAM??!” bentak Myeong Joo.
Semua terdiam menatap Myeong Joo.
Semua hanya mengangguk kecil.
Tak pernah mereka melihat Myeong Joo seperti ini.
Myeong Joo.
Myeong Joo yang selalu tertawa.
Myeong Joo yang selalu ceria.
Myeong Joo yang selalu ramah tamah pada penggemarnya.
Untuk saat ini berubah 180°.
Sangat jauh berbeda dari biasanya.
Mereka langsung diam.
Tak mau melihat kemarahan Myeong Joo.
Myeong Joo kembali mengenakan headphonenya.
Beberapa saat kemudian Myeong Joo melepas headphonenya karena Mr. Cho memasuki kelas.
Mr. Cho menerangkan materi bab selanjutnya.
Meskipun Myeong Joo tak mengenakan headphonenya dan pandangannya kedepan, Myeong Joo sama sekali tak memerhatikan.
Myeong Joo berada di kelas ini.
Myeong Joo memandang kedepan.
Tapi pikiran Myeong Joo berada di ruang yang berbeda.
Apa yang dipikirkan Myeong Joo? Apa kalian tahu?
Ya.
Benar.
Myeong Joo memikirkan mengenai artikel yang dibacanya kemarin.
Artikel mengenai ‘iblis dan manusia’.
Beberapa pertanyaan melintas dipikiran Myeong Joo sejak kemarin.
Myeong Joo benar benar bingung.
Myeong Joo tak pernah seperti ini sebelumnya.
Bagaimana bisa iblis dan manusia menjadi sepasang suami istri?
Bagaimana bisa mereka menikah?
Apa tak ada yang mencegah mereka?
Mereka brasal dari dua dunia yang berbeda.
Bagaimana bisa mereka bertemu?
Bagaimana mereka saling berkomunikasi?
Bukankah iblis dan hantu itu berbeda?
Bagaimana bisa seorang manusia melihat iblis?
Apa manusia itu memiliki kemampuan lain?
Kalaupun orang itu mampu melihat ‘itu’.
Apa mereka –iblis dan orang tersebut- bertemu setiap hari?
Lalu mereka saling jatuh cinta?
Apa orang itu tak takut saat pertama kali melihat iblis itu?
Apa iblis itu begitu tampan atau cantik?
Myeong Joo terdiam.
Pertanyaan itu melintas di pikirannya tanpa meninggalkan jawaban.
Myeong Joo lagi lagi terdiam.
Dia mengingat ingat artikel yang ia baca.
Yang ia baca.
Bukan yang ia baca dengan Yunho.
Ada beberapa pertanyaan yang terjawab dari atikel itu.
Myeong Joo kembali kedunia nyatanya.
Myeong Joo mengerjapkan matanya begitu mendapati satu lembar kertas yang berisi soal soal matematika.
“Ya! Apa ini?!” ucap Myeong Joo kesal.
Pletaakk!
Myeong Joo mendapatkan ‘hadiah pukulan’ dikepalanya dari Mr. Cho.
“Dasar anak nakal! Apa kau tak mendengarkanku dari tadi?”
Geram Mr. Cho.
Myeong Joo hanya diam.
Aigoo.
Dia sama sekali tak memerhatikan.
Myeong Joo membaca soal soal itu.
Myeong Joo tersenyum kecil.
Satu kata terlintas dipikarnnya.
Mudah.
“Kenapa kau tersenyum Nona Yoon? Aku akan mengawasimu secara private disini.”
Myeong Joo tersenyum.
Ia mulai mengerjakan soal soal.
Mr. Cho memerhatikan Myeong Joo dari dekat.
Mr. Cho duduk disamping Myeong Joo.
Mr. Cho sedikit terkejut.
Myeong Joo hanya diam.
Tenang mengerjakan soal soal yang memang sudah dianggapnya ‘mudah’.
“Sudah selesai” ucap Myeong Joo.
Mr. Cho tertegun. Begitu juga yang lain.
Secepat itu?
Mr. Cho mengambil lembar jawaban milik Myeong Joo.
Myeong Joo memang anak yang cerdas.
Dia sudah memelajari pelajaran SMA saat ia masih Elementary School.
Ya.
Itu karena ia tak mau tertinggal pelajaran karena urusannya sebagai detektif.
Sejak kecil Myeong Joo sudah di didik  untuk menjadi detektif.
Dan kalian bisa lihat hasilnya.
Myeong Joo berjalan keluar kelas.
Kembali mengenakan headphonenya.
Dan berjalan menuju rooftop.
Myeong Joo dan menikmati angin sepoi sepoi dengan mata terpejam.
“Apa kau teman Yoora?” ucap sebuah suara.
Myeong Joo membuka matanya.
Sedikit terusik dengan kehadiran suara itu.
Myeong Joo lantas  memandang pemilik suara itu.
Myeong Joo mengernyit.
Myeong Joo seperti pernah bertemu Pria ini.
Ah.
Myeong Joo ingat.
“Kau Oh Sehun kan?” ucap Myeong Joo.
Dia. Oh Sehun. Hanya mengangguk.
“Ne. Aku teman Yoora. Kenapa?”
“Yoora orang yang bagaimana?”
“Eum? Kenapa kau tanya itu? Apa kau menyukainya?”
“Aku tertarik padanya”
“Yoora baik, ramah, mudah berteman, hanya saja kurang teliti”
Sehun hanya diam.
“Dia menarik” ucap Sehun.
Singkat.
Padat.
Jelas.
“Apa kau suka dan tertarik pada sebuah mystery?” ucap Sehun.
“Eum? Mwo? Bisa kau ulangi?”
Sehun menatap Myeong Joo dalam. Myeong Joo diam menatap Sehun.
“Apa kau suka dan tertarik pada sebuah mystery Nona Yoon Myeong Joo?” ulang Sehun.
“Mystery?” ucap Myeong Joo memastikan.
Sehun mengangguk.
“Aku suka mystery. Aku suka teka teki. Dan aku tertarik pada dunia detekif” ucap Myeong Joo.
“Kenapa kau menanyakan hal itu? Pertanyaan yang tak terfikirkan olehku” lanjut Myeong Joo.
“Aku hanya penasaran. Kau terlihat sangat tertarik dengan sebuah mystery.” Jawab Sehun.
Myeong Joo hanya mengangguk.
“Apa kau tahu tentang iblis yang menikah dengan manusia?”
Sehun diam sesaat.
“Iblis menikah dengan manusia?” ulang Sehun.
Myeong Joo mengangguk.
“Kau benar benar tertarik pada mystery, teka teki, dan dunia detektif Nona Yoon. Aku bahkan tak pernah berfikiran sepeti itu. Aku baru tahu hal itu darimu” jawab Sehun.
Myeong Joo hanya tersenyum kecil.
“Sebelumnya aku juga tak pernah memikirkan itu” ucap Myeong Joo.
“Lalu bagaimana bisa kau menanyakan hal itu?”
“Aku hanya penasaran. Kemarin aku membuka sebuah situs internet dan membaca salah satu artikel. Konon katanya, ber-abad – abad yang lalu, ada iblis dan manusia yang saling mencintai dan memiliki hubungan. Namun karena mereka melanggar aturan dan melewati batas akhirnya mereka dimusnahkan. Tapi ternyata, mereka sudah memiliki keturunan. Mereka meninggalkan putra mereka itu di salah satu rumah warga agar merawatnya dengan baik. Dan putranya itu seumuran dengan anak SMA kelas 2” jawab Myeong Joo panjang lebar.
Sehun tersenyum kecil.
“Apa kau percaya pada hal seperti itu? Kurasa pemilik situs itu menipu semua orang yang membacanya.” Jawab Sehun santai.
“Aku hanya penasaran” ucap Myeong Joo lirih.
“Kau terlalu menyukai dunia teka teki” ucap Sehun.
Myeong Joo hanya diam.
Ia lalu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Sehun.

_______________


Myeong Joo hanya diam memandangi satu porsi makanan yang ada dihadapannya.
Myeong Joo melamun.
“Ya! Yoon Myeong Joo!” ucap Yoora kesal karena tak dianggap dari tadi.
Myeong Joo yang baru sadar mengedarkan pandangannya ke sekeliling lalu memandang Yoora.
“Ada apa? Kenapa teriak teriak?” ucap Myeong Joo santai dan mulai memakan makanannya.
Yoora merengut. Namun beberapa detik kemudian dia tersenyum.
“Myeong Joo” ucap Yoora sambil terus tersenyum.
“Hmmm” jawab Myeong Joo seadanya.
“Kau tahu tidak? .....”
“Aku tak tahu” sela Myeong Joo.
“Ish. Aku belum menyelesaikan kalimatku” ucap Yoora kesal.
“Cepat” ucap Myeong Joo.
“Kau tahu tidak? Sehun sekarang sudah mulai dekat denganku. Dia juga peduli padaku. Dia juga setiap hari berkirim pesan denganku. Hihi. Aku sangat senang. Dia juga bertanya apa kesukaanku.” Ucap Yoora panjan lebar.
“Aku tahu” jawab Myeong Joo singkat.
Yoora mengernyit.
“Kau tahu?” Yoora memastikan.
“Ya. Aku tahu. Tadi di rooftop dia bertemu denganku dan bertanya menurutku kau itu bagaimana.”
“Lalu kau jawab apa?” tanya Yoora.
“Ku jawab kau itu menyebalkan, cerewet, dan jahil” celetuk Myeong Joo.
“Mwo?! Ya! Kau ingin melukai hatiku ha?! Kau ingin kubunuh?!”
“Aish. Mana mungkin aku mengatakan itu. Aku bilang kau itu baik, ramah, dan mudah berteman. Hanya saja kau kurang teliti.” Jelas Myeong Joo.
“Kurang teliti?”
“Kau memang kurang teliti. Buktinya kau jarang menemukan petunjuk. Tapi saat aku ke lokasi yang sama. Aku menemukan petunjuk dan mampu menangkap
 pelaku. Kau ingat kasus itu kan?”
“Baiklah Nona Yoon. Kau memang lebih hebat dariku.” Ucap Yoora kesal.
“Memang aku lebih hebat darimu” jawab Myeong Joo.
“Ya! Kau tak sopan sekali pada seniormu! Aku ini 3 tahun di – “ Yoora menghentikan kalimatnya.
Myeong Joo tertawa mendengarnya.
“Kau ini benar – benar! Kau hampir membuat satu sekolah ini tahu kalau aku sudah bukan anak SMA. Dan kalau itu terjadi kita tak bisa menyamar di sekolah ini lagi.”
“Haha... memang itu kenyataannya. Sunbae.” Ucap Myeong Joo lalu melanjutkan tawanya.
“Awas kau” geram Yoora.
Tawa Myeong Joo terhenti.
Sudah satu minggu mereka tak bertugas.
“Yoora.” Ucap Myeong Joo.
Yoora diam.
Yoora tahu Myeong Joo serius saat ini.
“Beritahu semua rekan aku akan mengadakan rapat untuk kembali membahas kasus pembunuhan itu.” Ucap Myeong Joo.
Yoora mengangguk.


Skip at AOIKD

Semua yang ada di ruang rapat itu diam memandang Myeong Joo.
Myeong Joo juga masih diam.
Myeong Joo belum pulang hari ini.
Terbukti dia masih mengenakan seragam sekolah.
Ada yang terlihat malas karena sudah kembali disuguhi kasus yang belum terselesaikan.
Tidak semua.
Yang paling semangat adalah Myeong Joo.
Myeong Joo benar benar tertarik dengan kasus ini.
Ditambah lagi dengan adanya hubungan iblis dan manusia’.
Bagaikan kisah yang ada di film.
“Aku akan membicarakan kasus yang belum terselesaikan satu tahun lebih ini.” Myeong Joo memulai rapat.
“Malam hari setelah aku menemukan petunjuk itu, aku searching tentang ‘SIMBOL – SIMBOL ANEH’ dan muncullah sebuah situs dengan judul ‘SIMBOL – SIMBOL KEMATIAN’. Dan aku membaca artikel itu bersama dengan Yunho Hyung. Dan apa kalian tahu apa isinya?” ucap Myeong Joo.
Myeong Joo langsung menampilkan halaman situs itu.
Myeong Joo diam menunggu rekan rekannya selesai membaca.
Mereka terlihat terkejut saat membaca artikel itu.
Mereka semua lalu memandang Myeong Joo.
“Bagaimana menurut kalian?” Myeong Joo bertanya.
“Apa situs ini menyajikan informasi yang benar?”
“Ini pasti salah”
“Tak mungkin ada yang seperti ini”
“Ayolah ini bukan film”
Semua itu adalah tanggapan dari beberapa rekan Myeong Joo.
Myeong Joo tersenyum kecil.
“Jadi kalian berfikir kalau ini hanya penipuan?” ucap Myeong Joo.
Semua mengangguk.
“Lalu bagaimana bisa kalau ini memang penipuan, juga terdapat artikel yang sama dalam situs yang berbeda?”
Semua diam.
Myeong Joo menampilkan situs situs lain yang ternyata juga memiliki artikel yang sama dengan situs yang pertama.
“Iblis dan manusia memiliki hubungan bahkan sampai memiliki keturunan. Apa itu benar benar ada?” ucap Yoora.
“Sebaiknya kita mencari tahu tentang itu” ucap Yunho.
“Tak perlu” cegah Myeong Joo.
Semua memandang Myeong Joo.
“Apa kalian tak berfikir kalau aku sudah mencarinya?” lanjut  Myeong Joo.
Semua diam.
Benar juga.

Myeong Joo menampilkan situs yang berjudul.

‘PERNIKAHAN IBLIS DAN MANUSIA’
Berabad – abad  yang lalu.
Seorang iblis turun ke bumi untuk menjalankan tugas. Menganggu manusia.
Iblis itu hanya seorang diri.
Meskipun begitu, ia adalah iblis yang hebat.
Terbukti dia mampu mengganggu manusia.
Namun beberapa bulan setelah itu.
Iblis itu terdiam saat akan mengganggu seorang manusia.
Manusia itu berparas cantik.
Dan satu lagi yang membuat iblis itu terdiam.
Orang itu mampu melihatnya.
Dan orang itu juga bisa berkomunikasi dengannya.
Iblis dan manusia itu setiap hari bertemu.
Saling berkomunikasi.
Sampai – sampai iblis itu lupa apa tujuannya untuk datang ke bumi.
Hingga suatu hari.
Iblis yang menjadi penguasa di dunia iblis mengetahui itu.
Iblis dan manusia itu pergi jauh.
Mereka saling mencintai.
Mereka hidup berdampingan lama sekali.
Hingga akhirnya penguasa iblis menemukan mereka.
Mereka kemudian dimusnahkan karena sudah melewati batas dan melanggar peraturan.
Sebenarnya mereka sudah memiliki keturunan.
Hanya saja karena mereka tahu kalau suatu saat mereka akan ditangkap.
Mereka memutuskan untuk membekukan ketururnan mereka.
Dan keturunan mereka akan otomatis mengarah pada orang yang dinilai bertanggung jawab saat sudah menemukan orang yang bertanggung jawab. Dan keturunan itu dikabarkan seusia anak kelas 2 SMA. Anak itu adalah anak yang kuat, tangguh, cekatan, dan sangat cerdas. Anak itu juga memiliki kekuatan yang sangat hebat. Anak itu juga sangat rupawan. Namun meski ia memiliki sangat banyak kelebihan. Ia harus berhati – hati. Karena Raja Iblis sedang mengincarnya karena anak itu akan menjadi pendamping Raja iblis itu. Raja iblis itu sudah ada di bumi sejak anak itu memiliki orangtua. Itu berarti raja iblis sudah mencari anak itu lebih dari 10 tahun. Dan parahnya, anak itu tak tahu kalau dia adalah keturunan iblis dan manusia yang sedang menjadi incaran raja iblis agar bisa membawa anak itu untuk dijadikan pendampingnya. Dan sepertinya tak ada yang melindungi anak ini.


Semua menghembuskan nafas pelan.
Lalu menatap Myeong Joo.
“Menurut kalian siapa anak itu? Apa dia ada di sekitarku? Atau di sekitar Yoora? Dia seusia anak SMA kelas 2 kan?” ucap Myeong Joo.
Semua diam.
Tak tahu.

___________________________


Myeong Joo hanya diam dimeja kerjanya.
Diam memikirkan tentang kasus itu.
Kasus ini benar benar rumit.
Sangat rumit.
Bahkan sampai melibatkan iblis.
Ini berarti ini bukan kasus biasa.
Tapi kasus yang sangat luar biasa.
Myeong Joo melangkahkan kakinya menuju kamar dan segera bergelut dengan selimut hangatnnya.
­­­­___________

At school

Myeong Joo.
Yoora.
Sehun.
Mereka bertiga sudah akrab.
Dan satu lagi.
Sehun sekarang adalah kekasih Yoora.
Tentu saja mereka harus akrab.
“Ya! Myeong Joo! Mau kemana? Tidak makan bersamaku?” ucap Yoora yang disampingnya ada Sehun.
“Aku ingin ke rooftop. Menenangkan pikiran karena raja ib- ah maksudku ingin menenangkan pikiran” ucap Myeong Joo yang hampir saja keceplosan karena lupa kalau ini di sekolah dan ada Sehun disamping Yoora.
Myeong Joo segera menuju rooftop.
Menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya.
“Yoora menyuruhku untuk menemanimu disini” ucap seseorang. Sehun.
Myeong Joo menoleh.
“Sepertinya setiap hari kau selalu memiliki beban pikiran” ucap Sehun.
“Aku memang selalu memiliki beban pikiran. Aku menyukai teka teki dan dunia detektif kau ingat?” jawab Myeong Joo.
“Aku memiliki sedikit informasi”
Myeong Joo mengernyit.
“Informasi apa?” ucap Myeong Joo penasaran.
“Kau sedang mencari tahu tentang raja iblis kan? Aku bisa melihat iblis. Dan aku melihat raja iblis itu.” Ucap Sehun.
Myeong Joo tertegun.
Menatap Sehun.
“Benarkah?” tanya Myeong Joo antusias.
Sehun mengangguk.
“Dan dia ada disekitar kita. Raja iblis itu sedang mencari pendampingnya disekolah ini.” Lanjut Sehun.
“Apa pendampingnya ada disini?” ucap Myeong Joo.
“Ya. Tapi dia tak langsung bertindak karena dia ingin menunggu waktu yang tepat. Bulan purnama. Dan satu laggi.” Ucap Sehun membuat Myeong Joo penasaran.
“Dia adalah Yoora.”
Myeong Joo membulatkan matanya.
“Mwo?!”
Sehun mengangguk.
“Itulah mengapa aku menjadi kekasih Yoora. Aku ingin melindunginya.” Ucap Sehun.
Myeong Joo mengangguk paham.
Jadi begitu.
Iblis itu sedang mengincar Yoora.
Dan Sehun sedang berusaha untuk melindungi Yoora.
Myeong Joo paham.
Sehun tak seperti yang dibayangkan olehnya.
Sehun memang terlihat dingin dan tak peduli sekitar.
Mungkin itu karena ia bisa melihat hal hal yang tak bisa dilihat oleh orang biasa.
Dan orang yang memiliki kemampuan seperti itu memang cenderung menyendiri.
Myeong Joo tersenyum.
Kalau kau sudah mengenalnya.
Kau baru akan tahu seperti apa orangnya.
180° berbeda dari yang terlihat.
“Jaga dia” ucap Myeong Joo.
Sehun mengangguk.




Myeong Joo dan lainnya mengadakan rapat hari ini.
Kecuali Yoora.
Ya.
Myeong Joo ingin membahas apa yang dikatakan oleh Sehun di rooftop sekolah tadi.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” ucap Yunho.
“Pasangan iblis itu” jawab Myeong Joo seadanya.
Semua memandang Myeong Joo.
“Tadi temanku. Dia bisa melihat hal yang tak kasat mata.”
Semua masih diam mendengarkan Myeong Joo.
“Dia bilang. Iblis itu ada di sekitar kita. Dan dia sedang mengincar pasangannya. Dia sudah lama tahu siapa pasangannya. Hanya saja iblis itu ingin menunggu waktu yang tepat. Tepat di bulan purnama saat pasangannya ulang tahun. Dan menurut kalian siapa pasangan iblis itu?” ucap Myeong Joo.
Semua diam.
“Dia adalah Yoora.” Ucap Myeong Joo.
Semua langsung membulatkan mata.
Yoora?!
“Mwo?!” Yunho sangat terkejut.
Ya.
“Temanku itu bilang iblis itu setiap hari ada di dekat Yoora. Dia selalu mengawasi setiap gerak gerik Yoora. Dan aku mau kita semua menjaganya agar Yoora tak terjebak oleh bahaya yang ditimbulkan iblis itu.” Ucap Myeong Joo.
Semua mengangguk setuju.

­­­­_________________________


Satu bulan.
Sudah satu bulan mereka menjaga Yoora.
Dan satu hal lagi.
Nanti malam Yoora ulang tahun dan itu saat bulan purnama.
Mereka harus menjaga Yoora dengan ketat.
Kalau tidak iblis itu akan mendapatkan Yoora dan membawanya pergi ke dunia iblis.
Untuk dijadikan pasangannya.
Dan Yoora akan sangat tersiksa akan itu.
Belum lagi ia harus menerima kenyataan kalau ia bukan manusia seutuhnya.
Melainkan keturunan iblis dan manusia.
Dan Myeong Joo yakin Yoora akan sangat tertekan.
Malam ini Sehun dan Myeong Joo menemani Yoora jalan – jalan.
Untuk merayakan ulang tahun Yoora.
Yoora meminta sebuah hadiah yaitu dia bisa belanja  sepuasnya dengan Myeong Joo dan Sehun dan mereka yang membayar.
Tentu saja ada alasan lain Myeong Joo dan Sehun rela menghabiskan uangnya untuk belanjaan Yoora.
Kalian pasti tahu.
Kalau saja bukan karena hal itu.
Dapat dijamin kalau Myeong Joo dan Sehun tak mau menghambur – hamburkan uang mereka untuk barang yang mereka beli untuk orang lain.
Myeong Joo dan Sehun terus berwaspada.
Hari sudah hampir tengah malam.
Tapi masih banyak mall yang masih ramai.
Dan disetiap mall.
Yoora pasti membeli gaun, highheels, dan tas.
Yoora membeli itu untuk pesta ulang tahunnya besok malam.
Myeong Joo melihat arloji mewah yang terpasang di  pergelangan tangannya.
Pukul 11.50 pm.
10 menit lagi Yoora tepat berusia 21 tahun.
Myeong Joo melihat ke arah Sehun.
Sehun juga melihat kearahya.
Sehun menatap langit.
Bulan purnama.
5 menit lagi.
Myeong Joo dan Sehun menggenggam erat tangan Yoora.
“Kenapa?” tanya Yoora bingung.
“Tidak” jawab Myeong Joo dan Sehun bersamaan.
Tepat jam 12.
Myeong Joo dan Sehun menghentikan langkahnya dan saling menatap.
Mereka diam.
Tak terjadi apa apa.
Tak ada apa apa.
Mereka berdua bingung.
Kenapa tak terjadi apa – apa?
Bukankah ini ulang tahun Yoora.
Bukankah ini malam bulan purnama?
Yoora menatap mereka.
“Kalian kenapa?” ucap Yoora.
“Tidak” jawab Myeong Joo dan Sehun bersamaan.

­­­­­____________________


Esoknya, anggota AOIKD –kecuali Yoora-. Mengadakan pertemuan.
“Kenapa tak terjadi apa – apa?” ucap Myeong Joo bingung.
“Apa di ulang tahun tahun depan?” ucap Yunho.
“Tapi apa tahun depan juga akan bulan purnama??” jawab Myeong Joo.
Yunho diam.
Kasus ini benar – benar membuat Myeong Joo lelah dan kesal.
Myeong Joo melangkahkan kakinya keluar.
Ia mengajak Sehun bertemu untuk membicarakan ini.
At  park.
Sehun dan Myeong Joo hanya diam duduk disalah satu bangku taman.
“Dimana iblis itu saat tepat jam 12 malam?” Myeong Joo memulai pembicaraan.
Sehun menoleh kearah Myeong Joo.
Myeong Joo hanya diam memandang lurus kedepan.
Menunggu jawaban Sehun.
“Dia ada disamping Yoora. Hanya saja, karena ada kita. Iblis itu tak membawa Yoora pergi. Sepertinya itu akan dilakukan kalau korban sedang sendiri. Dan itu berarti, kita tak boleh membiarkan Yoora sendiri.” Jawab Sehun terus memandangi Myeong Joo.
“Kasus ini sangat melelahkan.”  Ucap Myeong Joo.
Singkat.
Padat.
Jelas.
Sehun tetap diam menatap Myeong Joo.
Sehun tersenyum kecil.
“Kau tahu?” ucap Sehun.
Myeong Joo mengernyit.
Bingung.
Myeong Joo lalu menatap Sehun.
“Kau secara tak langsung sudah memberitahuku kalau kau adalah seorang detektif.” Ucap Sehun.
Myeong Joo membulatkan matanya.
“Sebenarnya aku sudah mengira kalau kau detektif sejak di rooftop. Tapi semua itu kuanggap mustahil, karena kuanggap wajar. Tapi hari ini, kau baru saja memberikan bukti yang kuat bahwa kau memang seorang detektif.” Lanjut Sehun.
Myeong Joo tetap diam.
“Kalimatmu yang barusan. Kau ingat kalimatmu? ‘kasus ini sangat melelahkan’. Kau pasti tahu bagian mana yang memberikan bukti itu.”
Myeong Joo diam.
Dia tahu yang membuat Sehun tahu kalau dia detektif.
Ya.
Kata ‘kasus’.
Myeong Joo hanya diam.
“Aku tak akan memberitahu siapapun tentang ini. Tenanglah.” Ucap Sehun.

_______________________

Tak terasa.
Empat bulan telah berlalu.
Dan sekarang sudah bulan Mei.
Dan tak terdengar ada kasus pembunuhan.
Detektif yang mengurusi kasus itu juga sementara mengurusi kasus lain karena tak ada petunjuk baru.
Begitu juga dengan Myeong Joo.
Meski mereka sibuk mengurusi kasus lain.
Mereka tetap memikirkan kasus itu.
Pasalnya.
Ini sudah bulan mei.
Dan belum ada pembunuhan di periode kedua tahun ini.
Sekarang ini akhir mei.
Dan besok sudah bulan Juni.

Malam ini Myeong Joo hanya diam dimeja kerjanya.
Diam.
Melamun.
Memikirkan kasus yang sudah lama tak ditangani.
Bulan ketiga periode kedua.
Siapa korban selanjutnya?
Apa Sehun bisa membantunya?
Myeong Joo dan Sehun sudah jarang bertemu dan mengobrol. Begitu juga dengan Yoora.
Itu karenaa Myeong Joo sibuk mengurusi kasus kasus yang diberikan kepadanya.
Begitu juga dengan Yoora.
Sehun.
Myeong Joo menggelengkan kepalanya.
Ini urusan detektif.
Tak seharusnyya Sehun ikut dalam kasus ini.
Apalagi Sehun tak tahu apa yang harus dilakukan.
____________________
Minggu ketiga bulan Juni 2015.
Myeong Joo diam diruang  kerjanya di markas AOIKD.
‘BRAAAAK!’
Myeong Joo menoleh ke arah pintunya yang terbuka kasar.
“Ada apa Yunho hyung?” ucap Myeong Joo bingung.
“K-korban periode kedua tahun ini...” ucap Yunho terputus.
“Korban? Sudah terjadi pembunuhan? Dimana? Aku akan ke lokasi dan mencari petunjuk baru.” Ucap Myeong Joo antusias dan langsung berdiri dan mengenakan jaketnya.
“K-korban itu adalah.... Changmin.” Ucap Yunho menyelesaikan kalimatnya.
Tangan Myeong Joo yang hendak meresletingkan jaketnya terhenti.
Myeong Joo diam.
Diam.
Diam.
Diam.
Changmin?
Myeong Joo menatap Yunho.
“C-changmin?” ucap Myeong Joo memastikan.
Yunho mengangguk.
“Dimana lokasinya?” ucap Myeong Joo segera meresletingkan jaketnya dan mengambil tasnya.
“Di apartemennya.” Jawab Yunho.
Myeong Joo segera mengambil kunci mobilnya dan segera melesat menuju apartemen Changmin.
___________________
Sesampainya di apartemen Changmin Myeong Joo langsung memasuki kamar Changmin dan mengunci pintu dari dalam.
Myeong Joo tak memedulikan teriakan – teriakan dari polisi dari luar dan juga dari rekan – rekannya.
Myeong Joo diam di dalam.
Di apartemen Changmin hanya ada dirinya dan Changmin yang sudah tak bernyawa.
Myeong Joo diam.
Tak menyangka kalau korban selanjutnya adalah Changmin.
Rekan.
Teman.
Sahabat.
Saudara.
Myeong Joo mengenakan masker dan sarung tangan.
Myeong Joo mulai mencari petunjuk dari tubuh Changmin.
Seperti dikasus – kasus sebelumnya.
Tak ada petunjuk apapun di tubuh Changmin.
Apa di tempat lain?
Myeong Joo memandang sekeliling.
Tak ada yang aneh.
Seperti kasus – kasus sebelumnya.
Bercak darah disetiap dinding.
Myeong Joo mengernyit.
Ya.
Memang benar kalau dikasus – kasus sebelumnya dinding – dinding juga dipenuhi darah.
Tapi tak sampai ke kamar mandi.
Myeong Joo melangkahkan kakinya menuju kamar mandi perlahan.
Was – was.
Begitu Myeong Joo berada dalam kamar mandi Myeong Joo membulatkan matanya.
Sangat jelas.
Myeong Joo dapat membaca tulisan itu dengan jelas.
Tulisan yang ada disisi dinding yang ditulis dengan darah.

‘BERHENTI CARI TAHU TENTANGKU. ATAU TEMAN – TEMANMU AKAN MATI SATU PERSATU. BEGIU JUGA DENGANMU! YOON MYEONG JOO!’

Myeong Joo mundur beberapa langkah.
Iblis itu mengancamnya.
Terlebih lagi, iblis itu juga menuliskan nama lengkapnya.
Mata Myeong Joo bergerak gelisah memandang tulisan itu.
GRRRRRAAAAAUU
Belum sempat Myeong Joo menoleh untuk mencari sumber suara.
Tubuh Myeong Joo sudah terlebih dahulu terhempas ke salah satu dinding.
“uhk” Myeong Joo terbatuk kecil.
Myeong Joo membuka matanya.
“Argh!” Myeong Joo berusaha menahan sebuah tangan besar yang kini sedang mencekik leernya.
Myeong Joo menatap ‘sosok’ itu.
Matanya merah menyala.
Gigi taring yang tajam dan panjang.
Tubuh yang tinggi besar.
Kuku yang panjang dan tajam.
“uhk” Lagi – lagi Myeong Joo terbatuk.
Nafasnya tercekat.
Ia kesulitan bernafas.
Myeong Joo terus menatap ‘sosok’ itu.
‘BRAAAAKK!!!’
Sosok itu melempar tubuh Myeong Joo ke sisi lain dinding.
Myeong Joo hanya mampu merintih kesakitan.
Lagi – lagi sosok itu mencekik lehernya.
Myeong Joo kesakitan.
Sangat kesakitan.
Myeong Joo berusaha untuk menyingkirkan tangan sosok itu.
Leher Myeong Joo mengeluarkan sedikit darah.
Sedikit darah.
Tapi dalam jumlah banyak.
Tentu saja berdarah.
Sosok itu memiliki kuku yang panjang dan tajam.
Sosok itu kembali menghempaskan tubuh Myeong Joo.
Myeong Joo sedikit kehilangan kesadarannya.
Tapi sosok itu masih menghempaskan tubuh Myeong Joo berulang kali.
Myeong Joo yakin beberapa tulangnya patah.
Myeong Joo sangat pusing.
Sosok itu berdiri dihadapan Myeong Joo yang tergeletak lemas.

“jangan berani – beraninya kau mencampuri urrusanku untuk mencari pasanganku. Aku sudah bertahun – tahun mencarinya. Dan kau akan menghancurkan usahaku begitu saja? Tak akan kubiarkan. Kau jangan mencampuri urusanku nona Yoon Myeong Joo. Kalau tidak, teman – temanmu akan jadi orban selanjutnya. Dan akan ada lebih banyak korban dalam 3 bulan.” Ucap sosok itu dengan suara beratnya yang juga serak.

Pandangan  Myeong Joo mulai buram.
Dan setelah itu.
Gelap.


Yunho diam di ruang rapat.
Yunho memandangi mereka satu persatu.
Yunho menatap Yoora sedikit lama.
Yunho lalu menghembuskan nafasnya pelan.
“Kita akan menghentikan penyeledikian pada kasus ini.” Ucap Yunho to the point.
Mereka semua membulatkan matanya.
“Mwo? Kenapa??” ucap Yoora.
“Seperti yang kalian tahu. Iblis itu sudah keterlaluan. Dia bahkan sudah memakan 2 korban dari kantor kita. Shim Changmin. Tewas. Dan Yoon Myeong Joo. Dia koma dan mengalami banyak patah tulang.” Ucap Yunho.
“Apa karena ada anggota kita yang jadi korban kau menutup kasus ini?”
“Kalau kita melanjutkan kasus ini akan jatuh lebih banyak korban. Kau baca sendiri kan tulisan yang ada didinding kamar mandi.” Bela Yunho.
“Itu hanya untuk teman Myeong Joo. Apa kau takut mati tuan Jung Yunho?” ucap Yoora tak mau kalah.
Yunho terdiam.
“Apa kalian tak mau membalas budi pada Myeong Joo? Dia sering membantu kalian dalam menangani kasus kalian. Dan apa karena kasus ini melibatkan makhluk lain yang bisa membunuh kalian sewaktu – waktu kalian akan meninggalkan Myeong Joo begitu saja?” ucap Yoora.
Semua hanya diam.
“Myeong Joo terluka saat sedang berusaha mencari petunjuk dari kasus ini. Tapi dia justru diserang oleh iblis itu. Dia bahkan hampir tewas untuk menangani kasus ini. Kalau saja kita terlambat satu menitpun dia pasti akan mati. Dan itu berarti Myeong Joo telah mengorbankan dirinya sendiri untuk kasus ini. Ia bahkan langsung mengunci pintu untuk mencegah orang lain masuk.” Lanjut Yoora.
Semua mengangguk – angguk.
“Yang setuju kasus tetap dilanjutkan angkat tangan.” Ucap Yoora mengajak voting.
Semua mengangkat tangan.
Yunho diam.
Yoora benar.
“Baiklah. Kasus tak jadi ditutup.” Ucap Yunho lalu pergi.
_______________________________

Oktober, 2015.

Myeong Joo sudah sadar dari komanya.
Ia sedang menjalani masa pemulihan.
Besok ia sudah boleh pulang.
Karena Myeong Joo memang sudah layak untuk itu.
Tulang – tulangnya juga sudah berfungsi dengan baik.
Sementara itu, di lain tempat.
Yoora diam memandang Yunho.
Yunho hanya diam.
Yoora menghembuskan nafasnya pelan.
“Ceritakan semuanya” Yoora memulai percakapan.
“Ceritakan apa?”
“Semuanya. Tentang iblis itu. Dan Myeong Joo.” Jelas Yoora dengan nada serius.
Yunho diam sesaat.
Yunho tak bisa menolak kalau Yoora sudah serius seperti ini.
“Ceritakan dari awal. Ceritakan semuanya. Aku hanya tahu kalau korban dibunuh oleh iblis. Jadi tolong ceritakan dengan lengkap.” Pinta Yoora.
“Iblis itu membunuh karena dia tak mau ada yang mengganggunya untuk mencari pasangannya. Ia datang kemari adalah untuk mencari pasangannya. Pasangannya adalah manusia. Tapi dia adalah keturunan iblis dan manusia, dan iblis itu datang untuk mencari pasangannya itu. Dan iblis itu akan membunuh siapa saja yang mencaritahu tentang dirinya. Iblis itu sudah tahu pasangannya, hanya saja ia mencari waktu yang tepat. Dan teman Myeong Joo mengatakan kalau pasangan iblis itu adalah..... kau.” Jelas Yunho.
Yoora membulatkan matanya.
Aku?
Yoora tersenyum kecil.
“Aku bukan pasangan yang dicari iblis itu.”
Yunho mengernyit.
“Bagaimana kau tahu?”
“Beberapa bulan lalu aku dan orang tuaku melakukan tes DNA karena ada yang mengatakan kalau aku adalah anak angkat mereka. Dan hasil tes DNA itu terbukti kalau aku memang putri dari orang tuaku.” Jelas Yoora.
Mwo?
“Berarti teman Myeong Joo membohongi Myeong Joo. “ ucap Yunho.
Yoora mengangguk.
“Lalu ceritakan tentang Myeong Joo.”
“Saat itu Myeong Joo sedang menuju ke apartemen Changmin untuk mencari petunjuk. Dan setibanya disana, Myeong Joo langsung masuk dan mengunci pintu. Semua berusaha untuk membuka pintu itu. Bahkan pihak apartemen gagal. Pintu seperti ditahan oleh sesuatu. Beberapa lama kemudian, pintu berhasil dibuka dan Myeong Joo sudah ditemukan dalam keadaan tak sadarkan diri dan terluka. Dan pelakunya adalah iblis itu.”
Yoora diam mendengarkan Yunho.
“Aku harus menjemput Myeong Joo sekarang. Dan akan kutanyakan kejadian itu.” Ucap Yunho lalu bergegas pergi.

_________________________


Sesampainya di apartemen Myeong Joo, Yunho langsung membantu Myeong Joo untuk duduk di sofa.
Yunho lalu meletakkan tas Myeong Joo dan duduk disamping Myeong Joo.
Myeong Joo masih diam.
Yunho menghembuskan nafasnya perlahan.
“Myeong Joo.” Ucap Yunho.
Myeong Joo menoleh.
“Maaf kalau aku sudah memberimu pertanyaan, padahal kau baru sembuh.”
Myeong Joo mengangguk.
“Sebenarnya apa yang terjadi di apartemen Changmin?”
Myeong Joo diam sesaat.
“Kalian pasti sudah melihat tulisan di dinding kamar mandi kan? Setelah aku membaca itu tubuhku terhempas. Lalu ada yang mencekikku. Dia menghempaskan tubuhku berulang kali. Dan juga mencekikku. Sosoknya tinggi besar. Matanya merah menyala. Kukunya panjang dan tajam. Dan dia mengancamku seraya mencekik leherku dengan kukunya yang tajam. Dia mengancam kalau aku tetap melanjutkan kasus ini, rekan – rekanku akan dibunuh olehnya. Dan setelah itu aku tak sadarkan diri.” Jelas Myeong Joo.
“Myeong Joo.”
Myeong Joo diam memandang Yunho.
“Bukan Yoora.” Ucap Yunho.
“Mwo?”
“Bukan Yoora. Yoora sudah tes DNA dan dia adalah anak dari orang tuanya. Mungkin temanmu berbohong.” Jelas Yunho.
Myeong Joo langsung mengambil ponselnya dan menelfon Sehun.
Beberapa saat kemudian Sehun datang.
“Ada apa ?” ucap Sehun.
Myeong Joo mengernyit.
“Bukan Yoora orangnya.” Ucap Myeong Joo.
“Mwo? Bagaimana bisa?”
“Yoora sudah tes DNA dan dia anak kandung dari orang tuanya. Itu berarti bukan Yoora.” Jelas Myeong Joo.
“Tapi iblis itu selalu ada di dekat Yoora. Bahkan saat Yoora bersamamu dia selalu di samping Yoora. Biasanya orang yang selalu didekatinya adalah orang yang menjadi tujuan.” Jelas Sehun.
“Tapi bukan Yoora. Kalau bukan Yoora lalu siapa orangnya.” Ucap Yunho.
Myeong Joo mengusap wajahnya kasar.
Baru beberapa jam yang lalu ia pulang dari rumah sakit.
Tapi sudah dihadapi dengan kasus yang semakin hari semakin rumit.
Myeong Joo menghembuskan nafasnya pelan.
“Sekarang tanggal berapa?”
“Tanggal 16 Oktober.”
Myeong Joo mengernyit.
“16 Oktober?” ucap Myeong Joo memastikan.
Yunho mengangguk.
“Seingatku bulan Juni.”
“Ah. Kau belum diberi tahu? Kau koma beberapa bulan.” Jelas Yunho.
“Koma? Sepertinya benar – benar parah.” Gumam Myeong Joo.
“Kau memang sangat parah. Kenapa kau tak bangun – bangun? Apa di alam sana ada teka – teki yang lebih menarik perhatianmu?” ucap Sehun.
“Menarik kau bilang? Kau tak tahu kan rasanya aku ingin pergi dari sana. Disana sangat mengerikan. Banyak makhluk aneh, ditambah lagi makhluk itu terus menerus mengejarku.” Gerutu Myeong Joo.
Sehun yang mendengar itu terkikik geli.
Sementara itu, Yunho memandang Sehun dan Myeong Joo bergantian. Ia lalu tersenyum. Sepertinya ia mengerti apa maksud dari ini. Yunho segera melangkahkan kakinya pergi.
Myeong Joo yang melihat Yunho pergi langsung bertanya.
“Mau kemana?” ucap Myeong Joo.
“Aku mau pulang. Aku lelah, jarang – jarang ada kesempatan tidur seharian. Bye.” Jelas Yunho lalu pergi.
Myeong Joo mengangguk paham.
Sehun diam memandang Myeong Joo.
Myeong Joo yang menyadari itu segera bertanya.
“Kenapa memandangku terus? Apa kau terpesona padaku ha?”
“Apa kau sudah makan?” ucap Sehun.
“Ne?”
“Apa kau sudah makan?” ulang Sehun.
Myeong Joo sedikit bingung.
Myeong Joo lalu menggeleng.
“Kau harus makan biar cepat sembuh. Mau makan apa?”
Myeong Joo diam memandang Sehun.
Begitu pula sebaliknya.
Myeong Joo lantas menempelkan punggung telapak tangannya di dahi Sehun.
Sehun mengernyit bingung.
“Kau tidak demam. Kau juga terlihat sehat. Apa kau baik – baik saja tuan Oh?” ucap Myeong Joo.
Sehun terdiam sesaat.
Sehun lalu menggenggam tangan Myeong Joo.
“Dasar. Aku serius. Aku khawatir padamu.” Jelas Sehun.
“Kau? Kau khawatir padaku? Ayolah, aku tak mau persahabatanku dengan Yoora hancur hanya karena laki – laki jelek sepertimu.” Ucap Myeong Joo seraya melepaskan genggaman Sehun dan menoyor kepala Sehun.
“Dasar tak sopan. Aku ini diatasmu. Kau harus sopan padaku.”
Myeong Joo hanya nyengir.
“Cepat makan. Makan roti ini.” Perintah Sehun.
“Shireo. Aku tak suka roti.” Tolak Myeong Joo mentah – mentah.
“Aish kau ini. Lalu kau ingin makan apa?”
“Pizza” jawab Myeong Joo.
“Mwo? Pizza? Kau ini baru keluar dari rumah sakit tapi sudah makan pizza? Aigoo.”
Myeong Joo mempoutkan bibirnya lucu.
“Kalau tak mau belikan yasudah. Pergi sana.” Usir Myeong Joo sambil mendorong – dorong tubuh Sehun pelan.
“Mwo? Ya! Kau ini jahat sekali padaku!” gerutu Sehun.
“Pergi sana! Aku mau pesan pizza!”
“Mwo? Aissh. Baiklah – baiklah aku akan membelikanmu pizza.” Sehun mengalah.
“Shireo! Aku tak mau kau belikan! Aku mau beli sendiri! Cepat pergi!” bentak Myeong Joo.
Huft.
Sehun menghembuskan nafasnya kasar.
Sehun segera melangkahkan kakinya pergi sebelum Myeong Joo lebih marah.
____________________________
Esoknya Myeong Joo mulai masuk sekolah.
Ada banyak temannya yang bertanya keadaannya.
Myeong Joo hanya membalas semua pertanyaan teman – temannya dengan jawaban ‘aku baik – baik saja tenanglah’ dan juga dengan anggukan serta senyuman.
Maklum kalau ada banyak temannya yang bertanya.
Myeong Joo adalah primadona disekolah ini.
Jadi berita Myeong Joo koma dengan mudah tersebar begitu saja.
Begitu juga dengan kabar Myeong Joo yang telah masuk sekolah.
Myeong Joo menjalani beberapa jam pertama dengan semangat.
Sudah lama Myeong Joo tak mengikuti pelajaran.
Myeong Joo sadar diri.
Dia memang sudah memelajari pelajaran Menengah Atas sejak ia masih Menengah pertama bahkan sejak usianya 10 tahun.
Dan Myeong Joo menguasai pelajaran itu.
Myeong Joo memang anak yang cerdas.
Meski begitu, Myeong Joo tak boleh sombong diri.
Myeong Joo tetap mengikuti pelajaran ini.
Siapa tahu ada yang ia lupakan atau ada yang salah dari yang dipelajarinya selama ini.
Myeong Joo anak yang cerdas.
Itulah mengapa ia menjadi pembicaraan para guru disekolah ini karena prestasinya.
Myeong Joo peringkat pertama dikelasnya.
Sekaligus peringkat pertama di sekolahnya
Bel istirahat telah berbunyi.
Myeong Joo segera membereskan buku – bukunya dan memasukkannya kedalam tas.
Ia lalu memeriksa ponselnya.
Dan membuka akun sosial medianya.
Satu bulan lebih Myeong Joo tak membuka akun sosial medianya.
Myeong Joo segera berjalan menuju kantin sambil membaca ucapan – ucapan yang ditujukan kepadanya.
Myeong Joo tak perduli dengan sekitarnya.
Ia tak memerdulikan orang – orang sekitarnya yang tersenyum melihatnya.
Myeong Joo telah kembali.
Myeong Joo tak perduli semua itu.
Ia hanya fokus pada ponselnya.
Fokus membaca semua yang tertera di akun sosial medianya.
Myeong Joo terkadang tersenyum membaca ucapan – ucapan dari teman yang bahkan tak ia kenal.
Bisa dibilang fans.
Bisa dijamin Myeong Joo hanya mengenal 10% dari semua yang tertera di akun sosialnya.
“Aigooo. Aku sudah seperti artis saja. Followers-ku juga sangat banyak. Hihi” gumam Myeong Joo sambil tersenyum – senyum sendiri.
“Kau memang artis.” Ucap seseorang.
Myeong Joo menghentikan langkahnya.
Menatap ke sumber suara.
Lalu kembali berjalan sambil terus berkutat dengan ponselnya.
Sehun merengut.
“Myeong Joo” panggil Sehun.
Myeong Joo tak perduli.
Dia tetap berkutat dengan ponselnya.
Memesan makanan.
Lalu memakan pesanannya sambil terus memainkan ponselnya.
“Myeong Joo Myeong Joo Myeong Joo............” panggil Sehun berulang kali.
Ting!
Myeong Joo meletakkan sendoknya kasar.
Myeong Joo menatap Sehun kesal.
“Kau marah karena pizza?” ucap Sehun.
“Tidak.” Jawab Myeong Joo singkat.
“Lalu kau kenapa?”
“Aku hanya tak suka kau yang mengatur – ngatur hidupku. Tak ada yang mengatur – ngatur hidupku. Orang tuaku saja tak pernah mengaturku atau menuntutku harus ini itu. Apalagi kau tak lebih dari teman.” Jelas Myeong Joo dan melanjutkan makannya.
Sehun diam.
Sehun menatap dalam mata Myeong Joo.
Sementara Myeong Joo mengacuhkannya dan tetap makan sambil memainkan ponselnya.
Myeong Joo menghentikan aktifitasnya saat ia merasakan ada yang menggenggam telapak tangannya.
Myeong Joo menatap tangannya lalu Sehun.
“Bagaimana jika aku lebih dari teman?” ucap Sehun.
“Kita baru kenal. Tak mungkin kau langsung jadi sahabatku.” Ucap Myeong Joo melepaskan genggaman tangan Sehun dan kembali makan.
“Bagaimana jika lebih dari sahabat? Bagaimana jika aku ingin menjadikanmu sebagai kekasihku?”
Uhk uhk uhk.
Myeong Joo tersedak mendengar pernyataan dari Sehun dan segera minum.
“Apa kau gila?” ucap Myeong Joo.
Sehun kembali menggenggam jemari Myeong Joo.
“Ya. Aku gila. Aku gila karenamu. Aku tertarik padamu sejak awal kau masuk sekolah ini. Aku mendengar dari teman – temanku. Aku lebih tertarik padamu saat aku melihatmu di kantin bersama Yoora. Aku terpesona padamu. Senyummu juga sangat memesona. Aku terpikat padamu Myeong Joo. Apa kau ingat saat di rooftop dan aku menanyakan tentang Yoora? Saat itu aku benar – benar terpesona padamu.” Ucap Sehun.
Myeong Joo hanya diam memandang Sehun.
Memberi kesempatan Sehun untuk menjelaskan.
“Apalagi kau juga berbakat. Kau juga sangat cerdas. Kau bahkan sudah mampu mengalahkanku, padahal kau baru masuk beberapa hari. Dan para guru sudah membicarakan tentang kecerdasanmu. Aku yang semula peringkat satu sekolah. Sekarang jadi peringkat dua. Kau benar – benar menarik Lu. Aku mencintaimu Yoon Myeong Joo.” lanjut Sehun.
“Apa kau mempermainkan perasaan Yoora?” ucap Myeong Joo.
Sehun menggeleng.
“Tidak. Aku menjalin hubungan dengan Yoora, selain untuk melindunginya juga untuk melihat bagaimana reaksimu. Aku dan Yoora hanya pura – pura. Awalnya Yoora memang tak mau karena ia memang menyukaiku. Tapi akhirnya ia mau membantuku karena ia sudah menemukan penggantiku. Aku dan Yoora hanya pura – pura.” Jelas Sehun.
Myeong Joo melepaskan genggaman Sehun.
“Jadi selama ini kalian membohongiku?”
“Aku hanya ingin melihat reaksimu. Apa kau cemburu atau tidak. Itu saja.”
“Tetap saja kau berbohong padaku! Apa kau tahu? Aku sangat tak suka dibohongi! Apalagi olehmu yang sudah kupercaya untuk membantuku! Apa Yoora tak memberitahumu eum? Aku tak suka dibohongi. Apalagi oleh orang yang masih berstatus ‘teman’ bagiku!” ucap Myeong Joo yang berhasil menarik perhatian dari orang sekitar dan dengan menekankan kata teman.
Myeong Joo segera meraih ponselnya dan pergi menuju kelasnya.
“Hari pertama yang menyebalkan! Dan ini semua karena Sehun” gerutu Myeong Joo.
____________________
Sekarang tanggal 17 oktober.
Besok tanggal 18.                                                                                         
Besoknya lagi tanggal 19 Oktober.
Hari ulang tahunnya.
Tapi sepertinya tak ada yang menarik.
Pikir Myeong Joo.
_________________________
Myeong Joo mengadakan rapat untuk membicarakan siapa sebenarnya pasangan iblis itu.
Myeong Joo memandang Yoora bingung.
“Aku sudah tahu semua. Jadi aku juga ikut rapat ini.” Jelas Yoora.
Myeong Joo mengangguk.
“Jadi, apa kalian tahu siapa sebenarnya pasangan iblis itu? Atau mencurigainya?”
Semua menggeleng.
Myeong Joo menghembuskan nafasnya
“Kenapa kau tak coba bertanya pada temanmu itu?” usul Yunho.
Myeong Joo diam.
“Teman? Teman yang mana?” ucap Yoora.
Myeong Joo menatap Yoora.
Myeong Joo sedikit kesal pada Yoora.
“Teman yang kau bantu untuk membuatku– “ ucapan Myeong Joo terhenti.
Myeong Joo lalu memandang orang sekitarnya.
“Teman yang kau bantu untuk membuatku menemukan pasangan iblis itu. Meski ternyata salah orang. Dia kira orang itu kau. Itulah mengapa ia menyuruhku untuk melindungimu.” Jawab Myeong Joo. Sedikit malas untuk menjawab
“A-ah. Sehun? Kenapa dia bersangkutan dengan ini semua?” ucap Yoora.
“Dia bisa melihat hal yang tak kasat mata. Dan dia melihat iblis itu selalu dekat – dekat denganmu dimanapun kau berada. Itulah mengapa ‘sehun’ mengira kalau kaulah orang yang dicari iblis itu. Tapi ternyata salah. Terbukti saat kau ulang tahun tak ada yang terjadi padamu.” Jelas Myeong Joo dan menekankan nama Sehun.
Yoora yang mengerti itu merasa sedikit bersalah.
Ia tahu Myeong Joo tak suka dibohongi.
“Aku butuh refreshing. Aku izin tak masuk untuk 3 hari. Dan jangan ada yang menggangguku atau bertanya padaku tentang kasus ini. Kasus ini membuatku pusing. Apalagi ada pembohong.” Ucap Myeong Joo dan sedikit pelan di akhir kalimat.
Semua yang disana mengangguk mengiyakan.
Apa salahnya memberi Myeong Joo libur?
Myeong Joo sudah banyak berperan dalam kasus ini.
Apalagi satu hari lagi ia ulang tahun.
Mungkin liburnya ia gunakan untuk pergi kesuatu tempat yang dapat menenangkan pikirannya.
Myeong Joo segera melangkahkan kakinya pergi.
Yoora segera menyusul Myeong Joo.
Myeong Joo melonggarkan dasi sekolahnya.
“Myeong Joo! Tunggu!” ucap Yoora sambil terus mengejar Myeong Joo yang terus melangkahkan kakinya.
Yoora menarik tangan Myeong Joo.
Myeong Joo terhenti dan langsung melepaskan tangan Yoora.
“Myeong Joo dengarkan aku. Sehun benar – benar mencintaimu. Dia bahkan memohon – mohon padaku agar aku mau membantunya untuk mendapatkanmu. Maaf kalau aku membohongimu.” Jelas Yoora.
“Kau tahu kan? Aku paling tak suka dibohongi”  ucap Myeong Joo dingin.
Yoora mengangguk.
“Aku tahu. Aku tahu itu.”
“Lalu kenapa Noona tetap membohongiku? Kenapa mau membantu orang untuk berbohong?” ucap Myeong Joo dengan nada yang meninggi.
“Aku tak tega pada Sehun. Dia bahkan memohon – mohon padaku.”
“Berarti kau tega padaku.” Myeong Joo menyimpulkan dengan sangat singkat.
“Apa?”
“Kau tak tega pada Sehun. Berarti kau tega padaku.”
“Myeong Joo jangan begini jebal. Sebentar lagi ulang tahunmu. Kau harus bahagia.”
“Bahagia? Apa aku harus bahagia saat aku dibohongi? Aku bukan orang bodoh.” Ucap Myeong Joo kesal.
“Myeong Joo jebal. Kau harus bahagia di hari ulang tahunmu. “
“Aku tak perduli dengan ulang tahunku!” ucap Myeong Joo langsung mengendarai mobilnya pergi.
______________________________
Myeong Joo menghentikan langkahnya begitu sampai di depan pintu kamar apartemennya.
Myeong Joo diam memandang seseorang yang berdiri didepan pintu kamarnya.
Orang itu juga memandangnya.
“Kau sudah pulang?” ucap orang itu. Sehun.
Myeong Joo diam.
Myeong Joo berjalan melewati Sehun dan langsung masuk kekamarnya.
Sehun segera masuk dan mengikuti Myeong Joo melangkah.
Myeong Joo membaringkan tubuhnya di ranjang king size miliknya dan memeluk gulingnya.
Sehun duduk diranjang Myeong Joo.
“Myeong Joo, maafkan aku. Aku tak ada maksud untuk membohongimu.” Jelas Sehun .
Myeong Joo diam.
Myeong Joo menguap dan segera tidur.
Sehun menghembuskan nafasnya berat.
Sehun menunggu sampai Myeong Joo terbangun.
Namun begitu bangun Myeong Joo langsung mandi dan makan.
Setelah itu menonton tv.
“Myeong Joo tolong maafkan aku jebal. Aku tak akan mengulanginya lagi.” Mohon Sehun.
Myeong Joo tetap diam.
Sehun melangkahkan kakinya menuju dapur.
Myeong Joo memerhatikan setiap gerakan Sehun.
Myeong Joo mengernyit.
Pisau.
“Kalau kau tak memaafkanku aku akan melukai diriku sendiri.” Ancam Sehun.
Myeong Joo segera menghampiri Sehun dan berusaha merebut pisau itu.
“Kau gila?” ucap Myeong Joo.
Myeong Joo tetap berusaha merebut pisau itu tanpa memerdulikan tangannya yang sudah berlumuran darah karena ia sedari tadi merebut pisau itu dengan menyentuh bagian tajam.
“Maafkan aku” ucap Sehun.
“Baiklah aku akan memaafkanmu!” ucap Myeong Joo lalu menarik pisau itu.
Myeong Joo meringis.
Tangannya berdenyut sakit.
Sehun yang baru sadar akan itu langsung mengambil kotak P3K. Sehun membersihkan darah di telapak tangan Myeong Joo lali mengobatinya.
Myeong Joo hanya diam merasakan sakit.
“Dasar” gerutu Sehun.
Myeong Joo hanya diam.
“Jadi kau sudah memaafkanku?” ucap Sehun.
“Tapi jangan kau ulangi. Kalau kau ulangi aku tak perduli kalau kau mau bunuh diri.” Ucap Myeong Joo.
Sehun mengangguk.
“Siap!”
Myeong Joo tersenyum kecil.
Sehun yang melihat itu tersenyum.
________________________
Esoknya Myeong Joo menyuruh Sehun pulang karena ia ingin sendiri hari ini.
Myeong Joo jalan – jalan ketaman.
Dari kemarin Myeong Joo memiliki firasat buruk.
Apa akan ada korban di hari ulang tahunnya esok?
Myeong Joo menepis pikiran buruknya.
Pagi hari Myeong Joo ketaman.
Siang hari Myeong Joo ke Lotte World.
Sore hari Myeong Joo ke namsan tower.
Dan sekarang.
Malam hari.
Myeong Joo kembali ada ditaman.
Hanya beda lokasi.
Meurut Myeong Joo taman ini sangat indah.
Apalagi dimalam hari.
Banyak lampu – lampu yang indah tersusun rapi.
Myeong Joo melihat arlojinya.
Jam 11 malam.
Satu jam lagi ulang tahunnya.
Ulang tahun yang ke – 19.
Myeong Joo duduk disalah satu bangku taman.
Menunggu tepat pukul 12 malam.
Myeong Joo kembali melihat arlojinya.
5 menit lagi.
Myeong Joo mematikan ponselnya dan meletakkannya dibangku taman.
Ia tak mau ada yang mengganggu dihari ulang tahunnya.
“Ugh” rintih Myeong Joo sambil memegangi kepalanya.
Myeong Joo merasakan kalau kepalanya sakit sekali.
Kenapa semakin terasa sakit saat waktu semakin dekat dengan pukul 12 malam?
Myeong Joo menahan rasa sakitnya itu.
Myeong Joo kembali melihat arlojinya.
Myeong Joo menghitung mundur.
“10....9....ugh...8..7...6...5...4...ahk...3...2...1”
____________________________________
Sementara itu Yoora dan Sehun masih diam di apartemen Myeong Joo.
“Ini sudah tanggal satu. Kenapa ia belum pulang?” ucap Yoora.
Sehun terdiam.
Mengingat – ingat apa yang pernah dikatakan oleh Myeong Joo.
Sehun membulatkan matanya.
“Yoora, ini hari ulang tahunnya kan? Jangan – jangan Myeong Joo adalah.......” ucap Sehun.
Yoora yang mengerti kearah mana pembicaraan Sehun langsung menelfon semua rekannya untuk mencari Myeong Joo.
Mereka berpencar mencari Myeong Joo.
Sehun dan Yoora mencari dikantor.
Tapi nihil.
Yoora berusaha menelefon Myeong Joo tapi tak aktif.
Semua sudah berkumpul sekarang.
“Aku menemukan ini ditaman” ucap salah seorang rekan.
Ia lalu menyerahkan ponsel dan sebuah kue ulang tahun.
“Ini ponsel Myeong Joo dan kue ini bertuliskan ‘happy birthday for me. Yoon Myeong Joo.’ ” Ucap Yoora.
Yunho terdiam.
Dari tadi Yunho hanya diam.
Sehun juga terdiam.
Myeong Joo yang dicintainya menghilang entah kemana.
Sehun mengusap wajahnya kasar.
____________

Sementara itu.......


“Akhirnya kau sadar juga Yoon Myeong Joo” ucap seorang pria.
Myeong joo mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan pencahayaan disekitarnya.
“Ngomong – ngomong, selamat ulang tahun untukmu, semoga panjang umur. Ah tapi sepertinya setelah ini kau akan mati.”
Myeong Joo menatap pria tersebut.
“Siapa kau?”
“Aku? Aku adalah... anak buah dari pembunuh yang selama ini kau cari bersama dengan teman – temanmu yang bodoh itu.”
“Mereka tidak bodoh!”
“Ah mereka bodoh. Mereka bodoh karena mengikuti semua yang kau katakan. Dan yang paling bodoh adalah kau! Bagaimana bisa seorang detektif sukses percaya begitu saja pada orang baru?”
“Apa maksudmu? Aku tidak mudah memercayai orang baru!”
“Lalu bagaimana dengan... Oh Sehun?”
Myeong Joo hanya terdiam.
“Lihat? Kau baru menyadarinya? Bodoh sekali kau Yoon Myeong Joo. Apa kau tak merasa curiga dengannya? Dia orang baru, kemudian dengan bodohnya kau memercayai semua yang dikatakan padamu termasuk petunjuk – petunjuk palsu itu. Dan semua artikel yang kau baca di internet adalah palsu. Dan kau tahu siapa yang membuatnya?”
“Tolong jangan dia..” batin Myeong Joo.
“Oh Sehun”
Myeong Joo membulatkan matanya.
“Dan dia juga bukan otak dari semua ini, dia hanyalah anak dari dalang sesungguhnya. Sayangnya Oh Sehun sedikit membangkang dan membuat ayahnya mengubah rencana awalnya.”
“Apa saja yang sudah kau katakan padanya, Kai?”
Myeong Joo mengenal suara ini.
“Tuan Oh” ucap pria itu – Kai lalu membungkukkan badannya.
“Tidak mungkin” gumam Myeong Joo.
“Apanya yang tidak mungkin Myeong Joo?”
“Bagaimana bisa kau... pemimpin tim ku... kau...”
“Ya. Aku, Oh Yunho. Kenapa? Apa kau terkejut?”
“Dan kau adalah ayah dari...”
“Oh Sehun? Jangan bicarakan dia, dia tidak tahu tentang rencana hari ini. Dia sudah mengabaikan perintahku untuk memancingmu. Ah apa di kepalamu yang cerdas itu sedang bermunculan berbagai pertanyaan? Kau bisa menanyakannya padaku.” Ucap dalang dari semua ini – Oh Yunho.
“Mengapa?”
“Mengapa apa, Myeong Joo?”
“Mengapa kau melakukan ini?”
“Tanyakan pada kedua orang tua mu. Ah aku lupa mereka sudah mati. Sepertinya aku akan sedikit berdongeng disini. Biarkan aku duduk.” Ucap Yunho lalu segera menarik kursi kedepan Myeong Joo dan mendudukinya.
“Aku dan ayahmu, dulu adalah sahabat. Kalau saja kami mau, kami bisa menjadi detektif terhebat saat itu karena kemampuan kami. Tapi kami sama – sama memiliki bisnis gelap, semacam obat – obatan dan juga senjata illegal. Dan masalah mulai timbul saat ayahmu mengkhianatiku. Dia dengan kejamnya telah merebut semua secara diam – diam. Semua yang ada di hidupku. Bahkan dia melaporkanku pada kepolisian yang membuatku terkurung di jeruji besi! Dan ayahmu yang licik itu telah menghapus semua semua bukti yang memberatkannya sehingga aku yang terkena imbasnya, dan kau tahu apa? Setelah terbebas dari penjara ayahmu bahkan masih terus menghancurkan kehidupanku. Dia mendatangiku dan keluargaku, dan membunuh keluargaku didepan mataku!”
“Tidak mungkin, ayahku bukan pembunuh!”
“Tapi itulah kenyataannya! Dia membunuh istriku, membunuh putriku, dan bahkan membunuh ibuku. Itulah kenapa aku sangat – sangat terobsesi dengan angka 3, itu mengingatkanku pada keluargaku yang telah dibunuh oleh ayahmu. Dan aku masih beruntung karena ayahmu tidak mengetahui kalau aku masih memiliki seorang putra yang baru saja lahir. Ya, dia Oh Sehun. Putraku yang tampan. Dia yang membuat artikel – artikel itu, dia yang memancingmu, dan orang yang kau temui tadi, dia yang membunuh orang – orang. Sedangkan aku? Aku adalah otak dari semua ini, aku yang menyusun rencana, mereka yang menjalankan.”
“Bagaimana dengan benda – benda itu?”
“Benda – benda aneh yang kau temukan di setiap TKP? Itu adalah benda – benda antik milik ayahmu. Dan orang – orang yang kubunuh adalah anak buah dari ayahmu. Semuanya.”
“Apa maksudmu Changmin juga anak buah dari ayahku?”
“Ah aku melupakannya, tidak – tidak. Dia bukan anak buah ayahmu. Dia hanya kugunakan untuk memancingmu agar kau panik dan menuju TKP seorang diri, yah kedalam kamar maksudku. Apa kau bertanya – tanya tentang makhluk itu? Makhluk besar menyeramkan yang berhasil membuatmu koma? Asal kau tahu saja, itu hanyalah sebuah robot yang dirancang oleh Sehun. Dia sangat menyukai robotik, anakku benar – benar hebat bukan?”
“Teganya kau membunuh orang tak bersalah seperti Changmin!” marah Myeong Joo.
“Tega? Tega kau bilang? Lalu bagaimana dengan ayahmu yang membunuh tiga anggota keluargaku didepan mataku? Apa itu bukan tega namanya? Mereka juga tak bersalah pada ayahmu yang licik itu! Tapi ayahmu membunuh mereka, kau tak tahu betapa hancurnya aku.”
Myeong Joo terdiam, menunduk. Ia tak menyangka ayahnya yang selama ini mengajarkan berbagai macam hal padanya termasuk mengajarkan dunia detektif padanya adalah seorang pembunuh.
“Maafkan aku” lirih Myeong Joo.
“Apa kata – kata maaf mampu mengembalikan keluargaku? Apa mereka bisa hidup lagi? Tidak kan? Dan kau tahu apa yang ingin kulakukan sekarang?”
Myeong Joo hanya diam menatap Yunho.
“Membunuhmu” ucap Yunho.

BRAKK

“Hentikan ayah!”
Yunho dan Myeong Joo menoleh.
“Ah kurasa aku sudah ketahuan” ucap Yunho begitu melihat Sehun datang bersama dengan detektif lainnya.
“Hentikan, dia tak bersalah” ucap Sehun.
“Ayahnya sudah membunuh nenekmu, kakakmu, dan juga ibumu Sehun!”
“Itu ayahnya, bukan Myeong Joo”
“Kenapa kau membelanya? Kau menyukai gadis ini eoh?”
“Ya. Aku menyukainya ayah.” Ucap Sehun final.
“Aku akan tetap membunuhnya, aku tak bisa membunuh ayah dan ibunya krena kecelakaan bodoh yang membuat mereka berdua mati, sekarang biarkan aku membunuhnya.” Ucap Yunho lalu segera mengarahkan pistol ke arah Myeong Joo.

DOR!

BRAKK

Myeong Joo membuka matanya, ia tak merasakan sakit sama sekali pada tubuhnya. Segera ia alihkan pandangannya ke Yunho. Myeong Joo pun membulatkan matanya.
“S-sehun...” lirih Myeong Joo.
“Anakku menembakkan pelurunya padaku..” lirih Yunho.
Ya. Sehun telah menembak ayahnya sendiri.
“Maafkan aku ayah, maafkan aku..” lirih Sehun.
_____________________
Sepuluh tahun kemudian.
Aktivitas di kantor AOIKD bisa dibilang sangat sibuk. Terbukti dari beberapa orang yang tergesa – gesa sambil membawa berkas. Ada yang pergi menangani kasus, ada yang sedang mengerjakan laporan, dan ada juga orang yang berjalan menuju ruang rapat.
“Apa semua sudah berkumpul?” ucap seorang wanita.
“Sudah”
“Baiklah kita mulai rapat tentang kasus pembunuhan di daerah Incheon. Korban kali ini bernama Kim Minseok, usia 22 tahun jenis kelamin laki – laki. Dia bekerja sebagai penulis lagu dan juga penyanyi. Korban diperkirakan meninggal kemarin pada pukul 10 malam dengan luka tusuk dan luka sayat dileher. Dan tambahan dariku, sebelumnya korban juga telah diracun dan aku menyimpulkan tiga tersangka. Yang pertama Kim Jong Dae berusia 25 tahun, yang kedua Byun Baekhyun berusia 25 tahun dan yang ketiga adalah Kim Joonmyeon 26 tahun.”
“Bagaimana anda bisa menyimpulkan kalau dia diracun dan tiga orang tersebut adalah terangkanya?” tanya salah seorang detektif.
Wanita itu menyunggingkan senyum.
“Karena aku tahu dan sudah pernah menjumpai kasus yang seperti ini. Apa kau meragukanku?” ucap wanita itu.
“Tidak, Nona Yoon.”
Ya.
Wanita itu adalah Yoon Myeong Joo. Sejak meninggalnya Yunho, Yoon Myeong Joo telah mengambil alih posisinya.
_________

“Ada apa, Sehun?” ucap Myeong Joo pada Sehun melalui ponselnya.
“Jam berapa kau pulang?”
“Aku akan pulang sekitar dua jam lagi kurasa, aku masih ada di TKP. Kenapa?”
“Ayolah anakmu ini merengek mencarimu.”
“Dia anakmu juga jika kau lupa, Tuan Oh.” Ucap Myeong Joo.
“Baiklah – baiklah, kapan kau pulang?”
“ Sudak kukatakan sekitar dua jam lagi, tapi akan segera kuselesaikan ini jadi sedikit bersabarlah.”
“Baiklah – baiklah aku tutup dulu, aku mencintaimu.” Ucap Sehun final.
“Dasar.” Gerutu Myeong Joo.
Lima tahun setelah meninggalnya ayah Sehun mereka berdua memutuskan untuk menikah dan telah dikaruniai seorang putra tampan. Mereka telah hidup bahagia.
Setidaknya hingga sekarang.
“Nona Yoon, ada yang menitipkan ini padamu.” Ucap salah seorang detektif pada Myeong Joo.
“Dari siapa?” ucap Myeong Joo setelah menerima kotak kecil.
“Saya juga tidak tahu nona, dia bilang ini dari penggemar rahasiamu.”
“Baiklah, terimakasih.”
“Sama – sama, Nona Yoon.”
“Kira – kira apa ya isinya...” gumam Myeong Joo lantas membuka kotak tersebut.
“Astaga!” pekik Myeong Joo dan membuang kotak tersebut.
Yoora yang mendengarnya pun menghampiri Myeong Joo.
“Ada apa? Kenapa menjerit?” tanya Yoora
“Aku harus pulang, keluargaku...” ucap Myeong Joo langsung meninggalkan Yoora.
Yoora yang bingung pun melihat kotak apa yang telah dibuang dan betapa terkejutnya Yoora saat tahu apa isi dari kotak itu.
Bangkai tikus dan secarik kertas bertuliskan...
Dendam Tuan Yunho belum tersampaikan, maka aku yang akan membalaskan dendam tuanku pada keluargamu, Nona Yoon Myeong Joo.’
______________
Myeong Joo pun membuka pintu rumahnya dengan tergesa.
“Oh tidak....”
.
.
.
.
.
.
The End.

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © TASTE IT! | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com